I Lagaligo, Mahakarya Nusantara yang Terancam  

2 min read

Di antara nama-nama jalan di seluruh Indonesia yang seragam karena diambil dari nama pahlawan nasional, kadang terselip  nama jalan yang merupakan ciri khas daerah itu dan tak ada di tempat lain. Seperti nama jalan Lagaligo di ibu Kota Sulawesi Selatan, Makassar. Selain menjadi nama jalan, di Benteng Roterdam, Makassar, juga terdapat museum Lagaligo. Dari dua hal ini saja, sudah tergambar makna penting Lagaligo.

Lagaligo merupakan nama karya sastra klasik dari Sulawesi Selatan. I Lagaligo atau biasa disebut juga Sureq Galigo telah ada sejak sekitar abad ke-14. Epos I Lagaligo sering disandingkan dengan karya serupa, yakni Mahabarata dari India, serta Hemesros dari Yunani. Badan dunia United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) telah memasukkan I Lagaligo sebagai Memory of The World pada 2011 dan menetapkannya sebagai karya sastra terpanjang di dunia.

I Lagaligo merupakan naskah berupa syair sebanyak 6.000 halaman. Dulu, ia merupakan tradisi lisan yang dituturkan dengan cara bernyanyi (sureq), dalam hajatan atau upacara adat dalam masyarakat suku Bugis di Sulsel. Naskah Lagaligo tersebar di banyak tempat di Sulsel, yang biasanya hanya dimiliki oleh kalangan bangsawan, pemangku adat, atau keluarga kerajaan dalam tulisan Lontara Bugis Kuno.

Retna Kencana Colliq Pujie, kemudian menyalinnya, setelah dikumpulkan oleh Benjamin Frederik Matthes penginjil dari Belanda. Selain itu, ada juga penulis awal yang memperkenalkan Lagaligo ke dunia luar melalui tulisan mereka, yakni Jhon Layden sekitar tahun 1808 dan Sir Thomas Stamford Raffles dalam The History of Java pada 1817.

Ada banyak episode, tokoh, dan kisah dalam mitologi ini. Namun, garis besarnya adalah kosmologi dan asal muasal diturunkannya manusia pertama ke bumi atau dalam I Lagaligo disebut dunia tengah.

Setelah melewati rapat panjang antara dunia atas dan dunia bawah, maka disepakati manusia pertama yang diturunkan adalah Batara Guru. Dia lalu menikahi putri sulung dari dunia bawah bernama We Nyiliq Timoq, hingga beranak-pinak diantaranya yang paling terkenal adalah Sawerigading, lalu Lagaligo.

Batara Guru juga diberikan kerajaan yang diturunkan di Luwuq, kini menjadi Kabupaten Luwu, yang merupakan kerajaan tertua dan terbesar di Sulsel.

Sebagaimana karya sastra lama-lama, mitos dan cerita-cerita dalam I Lagaligo sangat istana-sentris, Meski demikian, I Lagaligo mengandung banyak ajaran tentang nilai kemanusiaan, kesetaraan, bahkan demokrasi. Nilai-nilai yang sering dianggap sebagai bentuk kemajuan masyarakat itu ternyata telah ada dalam karya sastra lama Nusantara jauh sebelum bangsa Eropa.

Dalam bab pertama, misalnya, diajarkan bagaimana mengedepankan musyawarah antara penguasa dunia atas dan dunia bawah, untuk mengisi dunia tengah. Selain itu, kaum perempuan juga didengarkan suaranya dalam mengambil keputusan.

Seperti yang tampak dalam sepenggal naskah NBG 188, edisi kedua, jilid 1 yang disalin dan disusun oleh Retna Kencana Colliq Pujie Arung Pancana Toa dan ditranskip oleh Muhammad Salim dan timnya berikut ini:

Baru saja matahari terbit di Boting Langiq,

Keesokan paginya di Senrijawa,

Jelas bersinar sang surya di Ruallette,

Saat itu bangunlah Topalanroe,

Dikuakkan kelambu keemasan sinar petir yang meliputinya,

Dibukakan kunci bilik guntur maka ia lewat,

Terus ke depan berselimutkan sarung yang tepinya bersujikan benang cahaya petir

 

Mahakarya yang Terancam 

Mungkin saja, nenek moyang orang Sulsel tidak membayangkan bahwa tradisi lisan mereka akan menjadi sebuah warisan mahakarya. Dari lisan kemudian ditulis dalam tulisan Lontara lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia seperti beberapa buku yang bisa dijumpai saat ini.

Beberapa upaya melestarikan dan memperkenalkan I Lagaligo sudah banyak dilakukan, baik dalam bentuk buku atau ditransformasi ke dalam bentuk teater, seperti yang pernah digelar dan disutradarai oleh Robert Wilson asal Amerika.

Sebagai karya sastra warisan nenek moyang, I Lagaligo memang belum seterkenal Mahabarata. Bahkan banyak orang Indonesia sendiri yang tidak mengenal I Lagaligo. Entah karena masih kurangnya publikasi atau dibutuhkan kerja-kerja kreatif untuk memperkenalkan I Lagaligo.

Cerita dan nilai-nilai yang terkandung dalam I Lagaligo akan selalu layak dibaca dan dikaji ulang sepanjang masa. Namun, jika generasi muda dan generasi selanjutnya tak kenal dan tak peduli, maka I Lagaligo akan habis ditelan zaman.

Amy Djafar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email.