Redaksi Omong-Omong

Georgia, Novia, dan Ruang Kosong Keadilan

Emma Amelia

2 min read

Film pendek Georgia (2020) karya Jayil Pak tayang dalam waktu terbatas bulan Desember ini di YouTube, spesial untuk penonton Indonesia. Penayangan di YouTube ini merupakan cara Jayil memenuhi permintaan publik yang merasa film ini sangat mencerminkan situasi Indonesia.

Sepasang suami-istri berpenampilan lusuh buru-buru meninggalkan kantor polisi; lagi-lagi dengan membawa pulang kekecewaan karena kembali gagal mengupayakan keadilan bagi mendiang putri mereka, Lee Jin Ah. Pada bagian depan bangunan kantor polisi itu, di atas pintu masuk utama, terpasang plakat bertuliskan “경찰은 항상 국민의 곁에 있습니다“. The police are always by the people’s side.

Ketimbang pembesar hati, pesan dalam plakat tersebut lebih mirip penghinaan bagi pasangan suami-istri yang putrinya bunuh diri setelah menjadi korban gang rape (perkosaan oleh sekelompok orang) itu. Polisi enggan menyeriusi, bahkan berkeras menolak membuka kembali kasus gang rape yang menimpa Lee Jin Ah. Sebaliknya, polisi justru bersikap sangat kooperatif dengan orang tua para pelaku gang rape yang berasal dari kalangan orang berduit dengan mendorong penyelesaian kasus secara kekeluargaan untuk menyelamatkan reputasi pelaku.

Georgia yang diangkat dari kisah nyata ini mengingatkan kita akan ketidakjelasan penanganan banyak kasus kekerasan seksual di Indonesia. Apalagi dengan kasus bunuh diri Novia Widyasari Rahayu baru-baru ini, kisah Lee Jin Ah—yang memang diangkat dari peristiwa nyata—semakin terasa dekat dan seolah adalah cerita yang sedang terjadi di Indonesia. Orang tua yang terus melakukan unjuk rasa dan menolak bungkam juga mengingatkan pada Aksi Kamisan yang sudah 14 tahun dilakukan para orangtua dan keluarga korban yang anaknya hilang, diculik, dan dibunuh. 

Baca juga Novia: Obituari Kemanusiaan

Di Indonesia dan di Korea Selatan, alih-alih mengayomi masyarakat, lembaga kepolisian justru bersekongkol dengan mereka yang beruang dan berkuasa, serta paham betul cara kerja delapan-enam. Alhasil, pencarian keadilan terpaksa harus diupayakan dari luar, misalnya dengan memviralkan di media sosial, membuat petisi, atau menggelar aksi protes.

Tahu benar bahwa terlalu banyak menaruh harap pada aparat penegak hukum tidak akan berbuah keadilan, orangtua Lee Jin Ah mencoba membuat petisi dan aksi protes. Namun, agar aksi dapat berjalan, mereka perlu mencetak spanduk protes sesuai dengan kehendak ibu Lee Jin Ah, yakni menggunakan font atau huruf bergaya Georgia. Hal ini bukan perkara mudah karena font Georgia ternyata tidak mendukung penulisan aksara Korea atau hangeul. Ayah Lee Jin Ah yang gaptek dan tidak punya cukup uang untuk membayar jasa desainer grafis telah mengusahakan berbagai cara untuk dapat mencetak spanduk seperti yang diinginkan oleh istrinya, tetapi hasilnya nihil.

Baca juga Drama Televisi dan Harapan tentang Polisi yang Mengayomi

Akhirnya, protes tetap dilangsungkan dengan memasang spanduk-spanduk berisi ungkapan kekecewaan orangtua Lee Jin Ah terhadap penghentian proses pengusutan kasus kekerasan seksual yang secara tidak langsung telah membunuh putri mereka. Desain spanduk-spanduk tersebut mempertahankan penggunaan font Georgia sehingga ungkapan kekecewaan yang ditulis dalam aksara Korea hanya terlihat sebagai kotak-kotak kosong, kecuali angka 18—jumlah pelaku perkosaan—yang tetap terbaca sebagaimana mestinya.

Film garapan sutradara Jayil Pak ini sarat penggunaan simbol-simbol untuk mengkritik bagaimana aparat dan masyarakat memperlakukan penyintas kekerasan seksual. Salah satu yang paling kentara adalah penggunaan simbol spanduk protes yang hanya berisi karakter kotak-kotak kosong tak terbaca. Padahal, kotak-kotak kosong tersebut sejatinya adalah ruang yang memuat suara-suara korban maupun pendamping korban kekerasan seksual.

Pada banyak kasus, suara mereka dibungkam atau, kalaupun berani bersuara, tidak dipedulikan oleh aparat penegak hukum dan masyarakat. Boleh dikatakan, kotak-kotak kosong itu adalah sindiran keras bagi pihak-pihak yang menolak berempati terhadap para korban kekerasan seksual.

Selain kekerasan seksual, Georgia juga menyoal diskriminasi dan kekerasan yang dialami oleh kelompok disabilitas di Korea Selatan. Pada adegan mediasi antara orangtua Lee Jin Ah dan orangtua pelaku perkosaan yang difasilitasi oleh lembaga kepolisian, diceritakan bahwa ibu Lee Jin Ah yang menjadi disabel karena penyakit stroke telah diperdaya untuk menandatangani kesepakatan penyelesaian kasus secara kekeluargaan.

Georgia adalah film pendek tentang perjalanan panjang perjuangan mendapatkan keadilan. Menonton film ini meninggalkan rasa nyeri yang membuat kita mempertanyakan kembali arti empati dan kemanusiaan. Ketika kepolisian tak lagi bisa diharapkan, poster unjuk rasa dan cerita dalam film adalah harapan dan kekuatan. 

Lanjut baca Pesohor Predator: Selebritas Korea Selatan dalam Pusaran Kekerasan Seksual

Emma Amelia
Emma Amelia Redaksi Omong-Omong

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email