Empat Puisi, Empat Anatomi

Ireisha Anindya

1 min read

homo quarterlifecrisis ibukota, sp 

tips-tips menjadi orang: menempelkan istilah produktif buat branding mutakhir. monyong bicara judul berita terbaru yang itu-itu lagi: demonstrasi, korupsi, pemerkosaan, dll. atau bacot seri dan musik yang langganannya patungan itu: marvel lagikah, atau anime wibu lagikah, atau entah konten algoritma yang mana lagikah. jadilah manusia berkedok setelan berkerah, aksesoris gawai kekinian, dan dua sepatu mengkilat. ambil tes kepribadian biar punya satu—ISFJ? ENTP? itulah dirimu, rapi jali dalam akronim empat huruf. membaca setia takhayul terkini dari financial consultant masa kini. upload ke sosial mediamu! #quarterlifecrisis #jakarta #tips #sukses

 

payudara—

gumpalan daging
membengkak di dada
yang berdebar-debar
bergelayutan liar

harus dipakaikan beha katanya
jangan diumbar-umbar ke siapa-siapa
hingga diriku cuma bisa melihatnya
sebagai metafora 

 

ode si buluk daster

seperti teman baik si buluk daster bersamaku. ketika aku menangis di balik bantal gara-gara adegan cengeng serial televisi di netflix. ketika aku malah nyanyi-nanyi cempreng enggak melakukan kerjaan yang mana lagi. ketika aku bangun kesiangan lupa salat subuh. ketika tidak ada siapa-siapa lagi yang ada di sisiku. 

waktu favoritku setiap hari adalah ketika aku melepas dresscode mutakhir Warga Negara Produktif. dan menggantinya dengan si buluk daster. aku tidak perlu genit a la a la macam-macam. dia mengerti tubuhku sejujur-jujurnya tanpa beha. dan dia tak perlu dikasih aksesoris-aksesoris buat mengesankan siapa-siapa. aku menyukainya yang tidak neko-neko. 

kata nyokap dasternya sudah harusnya dibuang. mustahil dia patut membungkus tubuh karena bolongnya seiring waktu. si buluk lagipula tak punya warna yang seharusnya. tapi aku tidak peduli. kadang kamu butuh sesuatu yang lekang dan tidak lekang sekaligus. sesuatu yang tidak mengenal waktu. dan detaknya. yang tidak tahu caranya beristirahat.

 

anatomi diri

saya aslinya empat orang anak
yang berdarah-darah jauh di dalam
terlalu banyak menelan sepat orang
yang begitu tajam asamnya menggerogoti
di dalam diri aku memendam dendam
pada sosok bocah yang tidak bisa berdaya
aku tertatih belajar memaafkannya
keempat anak yang berdiri di dalam tubuhku

Ireisha Anindya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email.