Embun di Kelopak Mata Ibu

Dino Rawan Putra

1 min read

Koperasi Empat-enam

Demi aroma pasar dan denting sendok
makan para pedagang kecil,
katakanlah (kepada empunya Koperasi Empat-enam itu),
“Adakah yang lebih kalian sukai daripada
bunga-bunga berkawat duri
yang tergantung di leher seorang ibu?”

Maka (satu antara) mereka akan menjawab,
“Kami tak suka melati ataupun anggrek, kami hanya
menagih hak kami—dua puluh persen sebulan”
Sedang di halaman cacing-cacing menunggu ayam kali ini
dan lalat-lalat menari di atas tukak seorang penjual kue singgang

Sikabau, 23 November 2020

 

Embun di Kelopak Mata Ibu

Pada kelopak mata ibu, embun jatuh
Menyiram yang tertinggal dalam
Jejak pertama kali kau beranjak
menapaki ujung jalan yang lain pada nasibmu

Sejak kau pergi, ia selalu membalut kenang
sebab ingatan terus menua dan mengerut
dalam bayangan, kini ia hanya membaui aroma kembang
yang ditaburkan saat pertama kali kau turun mandi

Jadi sudah berapa lama kini, sejak kau pergi
Jejak itu masih saja basah, meski halaman sudah dilipat
dan lihatlah betapa ibu selalu merawatnya
dengan embun yang jatuh dari kelopak matanya

Sikabau, 6 Juni 2020

 

Palsu

Orang-orang datang, orang-orang pergi
Mengukir jejak dalam ingatan, penuh kutuk dan makian
Sedang tengah daripada itu, pada baris doa-doa
Kita memanjatkan apa saja, pada tuhan-tuhan yang entah
Sementara iman menjelma segumpal mani
Yang busuk membeku; jadi kotoran dalam kerampang

Dan jika hidup memang sependek video di status Instagram
Kurasa cukuplah kita bermunajat di dinding Facebook
lalu biarkan akal terbawa hanyut oleh nasib
mengalir cepat, menuju pintu paling ujung
ketamakan usang peradaban

Dan dari sana, kini kudengar angin berpiuh memberi kabar
“Telanlah segala kepahitan, maka duka tak lagi kan milik kita.”
Ah, pesan jimbalang macam apa lagi yang sekarang sedang ia dendangkan
Bukankah sebermula duka memang bukanlah milik kita?

Padang, 12 November,2019

 

Kepada Tesa

Pada mulanya kau adalah retak yang menganga
Pada buhul kepala, yang menuntun masuk berhala baru
Memakan habis separuh waktu
dalam kultus perjamuan

Sekarang, kau adalah kehendak utama
yang memeluk diri dalam diri, melapangkan segala sesak
pada malam-malam penjagaan
Awal dari segala yang nyalang

Kini mari kita bikin janji, dengan bulat hati
Agar lemang yang kau tanak dalam dadaku
Tak hanya masak di tepi mentah di tengah
Sebab durian yang masak di batang telah dikabarkan
tak pernah berdusta jatuh ke tanah

Padang, 25 September 2019

 

Maransi-Aia Pacah

Hujan masih belum berhenti
Jam menunjukkan pukul tiga dini hari
Dari seberang pertigaan, seorang ibu sedang
menyusuri jalan, memunguti yang tersisa dari sampah
Di belakangnya, dua orang anak berjalan
menyandang karung pada pundaknya
Matanya memandang lurus ke depan, di bawah lampu-lampu jalan
antara Maransi-Aia Pacah. Dan di sini kurasa harapan
hanyalah botol dan gelas plastik bekas kosong
yang terbuang buruk sepanjang perlintasan

Padang, 28 Desember 2019

Dino Rawan Putra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email.