Cangker Sholihuddin Alangkah indah langkah

Do(s)a Berbahasa

1 min read

Bulan Bahasa

Selamat datang bulan bahasa

Di mana seseorang dengan lantang

Melangitkan bahasa yang luhur dan baku

Di mana seseorang dengan tenang

Berpuisi menghiasinya dengan sinar cinta

Di mana seseorang sendirian

Melamun memandangimu di ujung Langit malam.

 

Di mana kutemui diriku

Terasingkan di kegelapan Facebook dan Instagram

Serta akun-akun yang tak baku

Dan tak bisa dieja keberadaannya

 

Kepalaku Dicuci oleh Bahasa itu

Selamat datang di kepalaku
Kepala yang sedari SMA hingga mahasiswa
Sibuk dijejali hal yang kaku dan baku
Tak ada lagi kata bermain atau dolanan;
Semuanya tinggal kenangan
Meski tak ada kehilangan.
Semuanya telah ditertibkan oleh kata kaku keras: fanatisme,
Kapitalisme, anarkisme dan isme lain
Dan barangsiapa keluar
Dari ketentuan, maka akan
Didemo oleh massa kata

 

Teriak Bocah di Taman Baca Desa

Taman baca itu terletak di sudut desa

Tempat paling hijau di mana kata

Ditanam dan dirawat seperti putra sendiri

 

Di tempat itu akan kau temui

Buya Hamka, Max Havelaar, komik Naruto

Bahkan Sigmund Freud atau Sukarno;

Mereka telah mengabadikan dirinya dalam kata-kata

 

Dari arah angin terdengar suara

Langkah kaki bocah yang berlari mengejar layangan

Ia terhenti di depan taman baca

Matanya tertuju menghampiri sebuah buku.

 

“Kapitalisme bangsat!, Korupsi tak ada mati,

Akulah anak rohani Bung Karno” teriak bocah itu

Yang baru beberapa jam lalu duduk tenang

Membaca buku

 

Cerita Pagi Menjelang Sore di Perpustakaan

Aku tinggal di sebuah tempat

Di mana menghiasi kata adalah harapan bersama

Tapi oleh mereka

Kata menjelma pekerja kantoran yang sibuk dan membosankan

Kata menjelma mahasiswa yang hanya kenal demostrasi terhadap hal yang tak serasi

Kata menjelma cahaya yang sangat dijaga sampai lupa bagaimana ia menerangi

 

Tak ada kicau puisi

Tak ada hembus cerita imajinasi

 

Do(s)a Berbahasa

Wahai bahasa Indonesiaku

Dalam dirimu yang tak baku

Serta dalam kata-kata yang tak kutahu

Apa turunannya

Sebisanya aku tetap menjadi orang Indonesia yang tak lupa untuk pulang

Ke pelukan hangat bahasa ibu

Cangker Sholihuddin
Cangker Sholihuddin Alangkah indah langkah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email.