Disensor dan Dibungkam: Catatan Hati Penulis Nirideologi

Alan Pasaribu

2 min read

Saya suka menulis tentang berbagai topik—filsafat, ekonomi, biologi, sosiologi, politik, dan yang lainnya. Kesukaan ini membuat saya sering mencari lomba karya tulis lewat media sosial. 

Beberapa media yang saya kirimi tulisan dan beberapa forum yang saya ikuti lombanya mensyaratkan tulisan yang cukup variatif. Saya puas dan merasa tertantang untuk mengirim ide-ide liar dalam bentuk tulisan kepada media dan forum lomba tersebut.

Akan tetapi, kemewahan itu tidak bisa saya lakukan setiap saat. Sebab, ada juga media dan forum yang mempunyai ideologi tertentu yang membuat saya mesti menahan sedikit kebebasan dalam menulis agar sejalan dengan ideologi mereka. Namun, saya tetap mengirim tulisan ke sana karena saya lebih ingin melihat tulisan saya terbit di berbagai media daripada hanya terbit di media yang itu-itu saja.

Baca juga:

Saya tentunya tidak ingin menyalahkan dan mengambil posisi anti yang radikal terhadap media dan forum yang hanya ingin menerbitkan atau memenangkan tipe-tipe tulisan tertentu. Saya hanya akan menjelaskan dalam ranah praktis saja. Sebab, menurut saya, karya tulis mempunyai peran yang sangat penting dalam kehidupan.

Ideologi seperti nasionalisme, feminisme, environmentalisme, sosialisme, islamisme, kristianisme, dan sebagainya mempunyai forum-forum atau media-media sebagai wadah wacana mereka. Tentunya, sebagai ideolog, mereka semua mempunyai satu tujuan yang sama, yaitu untuk mempopulerkan ide-ide mereka dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya dengan mengadakan perlombaan karya tulis dan mendirikan media.

Hal yang kerap tidak kita sadari adalah bagaimana media dan forum itu memiliki bias ideologi tertentu. Apa hal buruk yang diakibatkan oleh itu semua? Tak lain ialah hilangnya sikap kritis terhadap gagasan dan persekusi terhadap penulis-penulis yang berbeda haluan. Siapa yang bisa menjamin jika tulisan yang bercorak ideologi tertentu adalah benar? 

Namun, masalah sebenarnya bukan ada pada seseorang yang berusaha menulis untuk membangga-banggakan ideologi tertentu. Masalah sebenarnya justru ada pada pemimpin forum dan media yang hanya pro terhadap kerangka berpikir tertentu.

Sudah menjadi tabiat ideolog untuk senantiasa ingin memegang kendali atas wacana dalam publikasi karya tulis. Para nasionalis yang hanya ingin mewadahi karya tulis berideologi nasionalis, misalnya, mengadakan lomba menulis dengan tema terbatas dan kaku seperti “membangun kesadaran nasionalisme dan Pancasila di tengah-tengah generasi Z”. Tidak ada kelompok nasionalis yang membuat lomba menulis dengan tema yang bersifat menggugat ideologi mereka, misalnya, “apakah nasionalisme dan Pancasila masih relevan di tengah-tengah generasi Z?”

Seharusnya wadah karya tulis atau gagasan kita bercorak sebebas-bebasnya. Namun, mungkin hanya sebagian penulis yang sadar akan masalah ini. Sebab, ada banyak orang yang merasa diri penulis, tetapi ide hanya itu-itu saja. Sementara itu, penulis yang mempunyai orientasi berbeda, yang berusaha menafsirkan realitas secara apa adanya tanpa dipengaruhi oleh cita-cita ideologi, sering kali tidak dapat panggung karena tidak mengikuti wacana ideologis pada forum dan media.

Sama halnya dengan optimisme, pesimisme perlu hadir untuk meramaikan corak karya tulis dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita semua hanya percaya bahwa keberpihakan atas ideologi-ideologi pembebasan dan pembangunan adalah hal yang hanya boleh beredar di kehidupan kita. Sementara itu, pemikiran yang berusaha menjadi antitesis terhadap itu dipandang sebelah mata oleh forum dan media yang ideologis.

Penulis realis masih sulit diterima di tengah-tengah wacana media dan forum ideologis. Seorang ideolog tidak ingin melihat ideologinya salah. Lain dengan seseorang tanpa ideologi yang selalu berusaha untuk menuangkan ide-idenya tanpa ikatan ideologi-ideologi tertentu.

Baca juga:

Keresahan saya atas media dan forum menulis di Indonesia adalah keresahan yang benar-benar menganggu. Saya merasa media dan forum yang sebenarnya bisa menjadi tempat berekspresi penulis dari berbagai aliran tidak bisa terealisasi. Satu hal yang menjadi catatan saya adalah kadang orang merasa telah memberikan toleransi atas segala perbedaan, tetapi mereka buta terhadap perbedaan-perbedaan yang menyerang ideologi mereka.

Ide-ide realis dan pesimis masih sangat dikerdilkan dalam berbagai kesempatan. Tak jarang, seorang penulis harus survive dengan berpura-pura menyetujui ideologi-ideologi tertentu. Dengan kata lain, tidak ada kebebasan dalam menulis. Pada akhirnya, menulis hanya jadi cara supaya si penulis bisa tetap makan dan hidup.

Ideologi sebagai pemegang wacana kebenaran tentunya lebih banyak penikmatnya dibanding realis tanpa ideologi. Sudah sepatutnya kita dapat membedakan yang mana penulis ideologis dan yang mana penulis apa adanya.

 

Editor: Emma Amelia

Alan Pasaribu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email