Retno Suryandari Environmentalist

Di Hutan Punah, di Kebun Binatang Mati

5 min read

Baru dua hari yang lalu seekor harimau ditangkap di Desa Air Batu, Merangin di Jambi setelah ia masuk ke perkampungan serta menyerang dan membunuh dua orang penduduk kampung tersebut.

Bulan lalu dua ekor beruang yang kelaparan masuk ke pemukiman warga di Pekon Simpang Sari, Sumber Jaya, Lampung Barat,  dan memangsa lebih dari satu lusin kambing di beberapa rumah warga. Beruang-beruang tersebut masih berkeliaran sampai saat ini karena warga tidak tahu harus berbuat apa.

Bulan April lalu seekor harimau yang kelaparan memasuki sebuah kampung di Nagari Tigo Koto Silungkang, Kecamatan Palembayan, Agam, Sumatera Barat, dan kemudian memangsa tujuh ternak anjing.

Kejadian-kejadian di atas baru contoh-contoh tahun ini yang terekam oleh media dan hanya di Pulau Sumatera. Bayangkan puluhan atau bahkan ratusan peristiwa lainnya di banyak tempat di Indonesia di mana satwa liar yang kelaparan masuk ke pemukiman mencari makan dan menyerang ternak dan manusia. Peristiwa seperti ini makin sering terjadi karena di habitat aslinya satwa mulai terhimpit, kehilangan ruang maupun sumber makanan. 

Satwa tidak lagi bisa leluasa di rumahnya sendiri. Satwa yang dulunya hidup di hutan sekarang pindah menjadi hidup di kebun. Kebun sawit. Tidak jarang satwa dianggap sebagai hama atau binatang pengganggu. Padahal satwa-satwa yang tergusur oleh sifat rakus manusia itu hanya mengikuti naluri untuk mencari makan di tempat yang dulu menjadi tempat bermainnya. Keegoisan dan kepentingan manusia merenggut banyak sekali kehidupan. Manusia sudah seperti spesies invasif yang mengoloni tempat hidup spesies lain. 

Perbedaannya, manusia mungkin tidak secara langsung menempati habitat tersebut, tetapi mengubahnya demi mengembangbiakkan kepentingan ekonominya semata. 

Menurut Ernst Haeckel, ahli biologi Jerman yang mencetuskan ekologi, habitat merupakan tempat hidup atau rumah bagi suatu makhluk hidup. Sebagaimana sebuah rumah, apabila ingin hidup dengan aman dan lestari, kondisi habitat harus mendukung ketersediaan pangan dan ruang. 

Prinsip Pembangunan yang Usang

Pembangunan merupakan keniscayaan di suatu negara. Aspek utama yang seringkali dijadikan indikator dari pembangunan sebuah negara adalah ekonomi. Hal tersebut bukan sebuah kesalahan, melainkan perlu adanya peninjauan ulang terkait prinsip yang digunakan sebagai pilar dalam pembangunan. Apalagi pembangunan ekonomi yang membabi buta seringkali mengakibatkan degradasi lingkungan yang parah.

Pembangunan di suatu negara apabila dibenturkan dengan keberlanjutan lingkungan seringkali menganut Kurva Kuznets (Environmental Kuznets Curve). Diyakini oleh sebagian besar ekonom sejak di bangku kuliah dan menjadi pemahaman bagi sebagian saintis lingkungan, Kurva Kuznets seringkali menjadi tolok ukur pembangunan di suatu negara.  

Kurva Kuznets merupakan sebuah hipotesis yang menjelaskan bahwa ketika ekonomi suatu wilayah menunjukkan tren pertumbuhan, pencemaran lingkungan juga meningkat. Namun ketika pertumbuhan ekonomi sudah mencapai titik tertentu, pencemaran lingkungan akan mengalami perbaikan. Hal ini digambarkan dengan kurva U terbalik. Umumnya titik belok tersebut terjadi ketika PDB (Produk Domestik Bruto) per kapita mencapai sekitar 6.000 dolar. 

Beberapa penelitian menunjukkan kurva ini terbukti di beberapa negara, khususnya  negara maju. Kita bisa membuktikan secara sederhana, salah satunya dengan melihat kualitas udara di negara-negara tersebut. Namun bagi negara berkembang, belum ditemukan kesimpulan yang mumpuni. Meskipun demikian, berlaku atau tidaknya Kurva Kuznets di suatu negara, diperlukan adanya telaah ulang. 

Kurva Kuznets seringkali diuji dengan indikator lingkungan berupa pencemaran lingkungan. Namun dalam hemat perjalanan pembangunan, dampaknya pada hilangnya habitat, hilangnya satwa liar, berubahnya bentang lahan, dan aspek-aspek fisik dan biotiknya kurang diperhatikan. Pasalnya, kerusakan lingkungan tidak hanya terbatas pada pencemaran semata. Oleh sebab itu, kalaupun suatu hari kurva kuznets berhasil dicapai, melalui pertumbuhan ekonomi yang merusak alam, apakah ada jaminan bahwa kita akan tetap memiliki bentang lahan yang sama, biodiversitas yang sama, dan satwa liar yang masih bertahan?

Keruntuhan Keanekaragaman Hayati

Keanekaragaman hayati Indonesia adalah nomer dua di dunia baik fauna maupun flora. Sepuluh persen pohon berbunga dunia berada di Indonesia. Dua belas persen jenis mamalia dunia (515 spesies), termasuk harimau dan beruang tersebut, hidup di Indonesia, atau nomor dua di dunia setelah Brazil. Kurang lebih 16 persen reptil (781 spesies) melata di bumi nusantara sementara keaneragaman primata Indonesia adalah nomor empat di dunia dengan 25 spesies. Untuk burung, 17 persen dari total jenis burung dunia terbang di udara Indonesia sementara untuk keberagaman satwa amfibi menempatkan Indonesia di nomor enam dunia dengan 270 spesies.

Mereka semua ini terancam tergusur bahkan punah secara perlahan karena keserakahan banyak manusia dan pembangunan yang serampangan.

Melakukan pembangunan dengan prinsip ekonomi yang merusak alam sudah tidak lagi relevan. Habitat yang hilang dan satwa liar yang punah tidak dapat dikembalikan seperti semula. Seluruh komponen yang ada di bumi ini terkoneksi. Oleh sebab itu, sudah bukan saatnya manusia membandingkan persentase kerusakan yang diperbuat untuk memperoleh pembenaran. Sebagai contoh kelapa sawit mungkin bukan penyebab utama deforestasi global, tapi hilangnya hutan di Indonesia yang berubah menjadi kebun kelapa sawit terlalu masif telah mengubah banyak hal hingga menimbulkan berbagai bencana. Ukurannya tidak perlu jauh-jauh ke skala global, karena bencana itu yang merasakan adalah penduduk lokal. Namun demikian, kontribusi untuk mencapai nol emisi adalah pekerjaan rumah kita semua. 

Mempertahankan suhu bumi untuk tetap berada di bawah 1,5 derajat dengan beralih ke energi baru terbarukan merupakan hal penting dan genting. Hal tersebut dikarenakan krisis iklim merupakan penentu utama keberlangsungan hidup seluruh makhluk di bumi. Sebagaimana krisis iklim yang menyebabkan kenaikan air laut, hal ini juga mengancam habitat komodo. Komodo (Varanus komodoensis) merupakan spesies endemik Indonesia yang saat ini statusnya berubah dari rentan (Vulnerable) menjadi terancam punah (Endangered). Namun pihak berwenang alih-alih melakukan pencegahan, justru melakukan alih fungsi untuk lagi-lagi memfasilitasi manusia.  

Tidak hanya terjadi pada komodo. Ancaman terhadap hilangnya keanekaragaman hayati yang tersisa juga terjadi di wilayah lain salah satunya di Aceh. Tidak hanya terhimpit oleh invasi yang dilakukan manusia atau akibat krisis iklim, satwa liar seperti gajah dan harimau yang hidup di habitat yang tersisa pun masih terjebak oleh ulah manusia. Padahal Gajah Sumatera dan Harimau Sumatera merupakan sebagian kecil yang tersisa di dunia. Status keduanya adalah kritis (Critically Endangered) satu tingkat menuju kepunahan. 

Komodo hingga harimau merupakan spesies puncak yang memiliki peran penting di sebuah ekosistem. Meskipun selama ini selalu dipandang sebelah mata dan selalu ditakuti, jika spesies ini mengalami kepunahan maka akan terjadi kaskade trofik yang membuat ekosistem menjadi kacau.

Sebagaimana punahnya serigala di Yellowstone yang menyebabkan meningkatnya populasi rusa. Ketika tidak ada spesies puncak ini, perilaku rusa menjadi liar dan tidak berhati-hati ketika mencari makan. Akibatnya, rusa melahap banyak vegetasi penting bahkan hingga di daerah aliran sungai. Hilangnya vegetasi menyebabkan hilangnya populasi burung hingga mengakibatkan erosi yang akan berdampak pada menurunnya populasi ikan. Namun ketika dilakukan reintroduksi serigala, kondisi ekosistem mulai mengalami perbaikan. Oleh karena itu menjaga spesies puncak merupakan salah satu aspek penting dalam mempertahankan keanekaragaman hayati. 

Entah di mana letak manusia dalam rantai makanan. Namun ketika manusia berhasil membuat punah sang predator, sangat memungkinkan manusia akan semakin liar dan tidak berhati-hati dalam memperlakukan lingkungan. Sebagaimana rusa di Taman Nasional Yellowstone itu.   

Keanekaragaman hayati merupakan salah satu aspek dalam ekologi yang harus memperoleh perlindungan. Aspek keanekaragaman hayati tidak bisa dipandang menggunakan paradigma utilitarianisme atau materialisme yang sering digunakan manusia modern. Meskipun tidak secara langsung, keanekaragaman hayati memiliki peran penting dalam jasa ekosistem. Keanekaragaman hayati lebih menekankan pada nilai intrinsik (eksistensi) daripada persepsi nilai fungsional. 

Nilai fungsional dan utilitarian lebih cenderung dimiliki oleh jasa ekosistem. Keanekaragaman hayati apabila dipandang satuan dan menggunakan persepsi utilitarianisme maka kurang memiliki nilai guna bagi manusia. Namun ketika keanekaragaman hayati melakukan perannya masing-masing dan saling terhubung antar spesies, maka jasa ekosistem itulah yang akan diperoleh manusia. 

Oleh karena itu, jika keanekaragaman hayati runtuh, maka jasa ekosistem pun berubah menjadi bencana. Apabila manusia tidak menginginkan hal tersebut terjadi, maka menjaga keanekaragaman hayati harus menjadi ambisi dan menjaga habitatnya adalah kunci. Jangan sampai manusia yang menginvasi habitat satwa liar itu memutar balikkan fakta dengan memberitakan bahwa harimau atau komodo yang mengganggu pekerjaannya. Karena pada dasarnya satwa-satwa itu hanya mencari makan di rumah mereka yang terjajah oleh manusia.

Penderitaan Kebun Binatang

Pandemi COVID-19 tidak hanya berdampak pada kehidupan manusia, tetapi satwa juga ikut merasakan dampaknya, khususnya satwa di kebun binatang. Kebun binatang menjadi salah satu tempat yang terengah-engah napasnya selama pandemi COVID-19. 

Seperti banyak sektor lainnya penghasilan dari pengunjung kebun binatang juga turun drastis selama pandemi yang mengakibatkan turunnya kualitas perawatan terhadap hewan-hewan penghuninya. Penderitaan ini ditambah dengan kesulitan keuangan negara selama pandemi ini. Tentu saja pemerintah lebih mengutamakan kondisi manusia yang mempunyai hak pilih daripada hewan penghuni kebun binatang yang kemungkinan menjadi prioritas terakhir bagi para politisi kita.

Dengan mempertimbangkan semua aspek ini, termasuk aspek ekonomi dan politik selain biologi dan lingkungan hidup, konservasi ex situ (konservasi di luar habitat alami) di kebun binatang belum dapat menjadi rumah yang layak bagi satwa liar.

Seperti banyaknya kejadian-kejadian tidak terurusnya satwa-satwa di kebun binatang atau beredarnya foto-foto dan video-video betapa kurusnya satwa-satwa tersebut di tempat itu, maka mereka seperti hidup dalam penderitaan sambil menunggu kematian yang kemungkinan juga tidak berapa lama lagi.

Jadi di manakah rumah yang aman untuk mereka?

 

 

 

Retno Suryandari
Retno Suryandari Environmentalist

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email.