🙋🏾 @rbrajarestu ✉️ brajarestu@gmail.com

Di Hadapan Kaca Spion

Raymondus Braja-Restu

2 min read

Suatu hari, saya melihat seseorang merekam dirinya menggunakan kamera ponsel, pantulan wajahnya tampak pada kaca—cermin—spion motor yang dikendarainya. Terlihat oleh mata saya sebuah stiker di tepi kaca spion motor orang itu, tulisannya: Objects in The Mirror are Closer Than They Appear.

Saya terdiam sejenak. Apa, ya, maksudnya?

Baca juga:

Belakangan, barulah saya ketahui bahwa stiker itu berguna sebagai safety warning yang lumrah ditemukan di beberapa negara di dunia. Sebenarnya, kalau saya lebih jeli mencermati, stiker serupa bisa-bisa saja ditempel di banyak kendaraan di negeri ini. Si pengendara tentu tahu bahwa kaca spion membantu melihat ke arah belakang laju kendaraan. Namun, kalimat dalam stiker memberi tahu si pengendara bahwa benda yang tampak kecil dan jauh di kaca spion pada kenyataannya punya ukuran lebih besar dan berjarak lebih dekat.

Kita tidak asing dengan ungkapan macam “ngaca, dong!”, “marilah berkaca pada …”, “mirror, mirror on the wall” dalam dongeng Putri Salju, hingga “cermin kaca benggala” dalam kisah Ramayana. Cermin, cermin, dan cermin. Kaca, kaca, dan kaca.

Cermin dan kaca dekat dengan istilah refleksi dalam arti melihat gambaran atau pantulan. Mungkin dari situlah pikiran kita lantas mengaitkannya dengan aktivitas bercermin atau berkaca dalam artian merenung, mengamati, dan menyadari sesuatu lebih dalam.

Peringatan “Objects in The Mirror are Closer Than They Appear” pada stiker di kaca spion tadi mungkin berlaku juga pada konteks manusia beserta ingatan, perjalanan, dan pengalaman mereka. Ketika kendaraan jiwa melaju dalam jalur-jalur perjalanan hidup, saya sesekali melihat kaca spion untuk memastikan pengalaman yang sudah saya lewati di belakang.

Seperti ketika melihat kaca spion kendaraan, saya seolah diingatkan bahwa pohon, anak kecil yang menyeberang jalan, baliho, dan awan jingga yang terpantul di sana masih bisa saya tengok sembari terus melaju. Mirip-mirip dengan cerpen Senja di Kaca Spion karya Seno Gumira Ajidarma, kalau tidak keliru.

Saya kemudian sadar, apa yang sudah saya lewati di belakang pernah tidak kecil dan jauh di mata saya, berbeda dengan apa yang sekarang saya lihat pada cermin. Kenyataannya, benda-benda—atau pengalaman—itu dekat dan lebih besar. Kesan inilah salah satu unsur dari kegiatan bercermin.

Otak-atik kaca spion ini membantu saya menyadari kecenderungan manusiawi saya sendiri. Pertama, kadang kala, karena terlalu fokus melaju, saya tak sempat menengok ke belakang sama sekali karena takut oleng, tidak fokus, bahkan terjatuh. Padahal, kaca spion membantu saya untuk berjalan lebih aman dan nyaman; selamat. Kedua, seperti kata stiker reminder di kaca spion itu, saya jadi ingat bahwa pengalaman, pribadi, atau apa pun itu yang lewat dan ada di belakang saya tidak begitu saja terlupa. Mereka terlihat kecil dan jauh, tetapi sebenarnya begitu dekat.

Akan tetapi, terlalu sering menengok ke belakang sampai-sampai lupa dengan yang sedang berjalan di sini dan saat ini rasa-rasanya bukanlah cara berkendara dan berpetualang yang baik. Kita tidak mungkin terus-terusan terjebak masa lalu dan melankolia berkepanjangan, apa lagi sampai tidak mengacuhkan jalan yang ada di depan.

Dengan porsi dan intensitas yang pas, bercermin dan berefleksi dapat memperjelas peta petualangan dan merinci kelengkapan bekal yang mesti saya siapkan. Kejadian terserempet di jalan A membuat saya lebih waspada melihat kaca spion di jalan B. Hujan yang datang dari arah Kota C di belakang membuat saya siaga membentangkan jas hujan ketika berhenti untuk istirahat di kota D, dan seterusnya, dan sebagainya.

Baca juga:

Tulisan ngalor-ngidul ini saya tutup dengan sebuah kecurigaan. Jangan-jangan, kegiatan bercermin itu juga melukiskan bagaimana proses refleksi diri dan pengalaman hidup bekerja saling anyam. Tangan atau wajah Tuhan, semesta, dewa, jagat, atau apa pun cara kita menyebut sosok yang menata di balik-belakang segala sesuatu, baru dapat terlihat dekat, jelas, besar, agung, dan bermakna ketika kita mencoba merasakan, merenungkan, merefleksikan, dan mencerminkan-Nya.

Kita tidak dapat melihat-Nya secara langsung—mata dengan Mata. Barangkali, memang hanya lewat bercermin dalam artian merenung dan menyadari dalam budi dan hatilah Dia Yang Maha tersebut dapat kita rasakan kehadiran-Nya; dekat dengan kita.

Pada kaca spion kendaraan hidup saya, di tengah macet dan hiruk-pikuk perjalanan, Dia tampak jauh, kecil, samar-samar, dan sangat rawan terlupa karena saya sibuk melihat ke depan dan memastikan kendaraan saya berdiri tegak. Namun, Dia sebenarnya selalu ada di sana, menemani saya dengan cara-Nya yang begitu indah. Dia mendorong saya dan keberadaan-Nya ternyata begitu dekat dengan saya.

 

Editor: Emma Amelia

Raymondus Braja-Restu
Raymondus Braja-Restu 🙋🏾 @rbrajarestu ✉️ brajarestu@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email