Ghufroni An'ars Redaksi Omong-Omong

Demi Mimpi menjadi Pegawai Negeri

4 min read

Mulai dari jaminan finansial, impian mapan di hari tua, sampai status sosial tinggi di mata tetangga. Gambaran utopis itu membuat orang berlomba-lomba ingin menjadi PNS. Namun, benarkah kehidupan PNS persis seperti yang kerap digembar-gemborkan? Apa yang membuat banyak anak muda tetap mendaftar PNS meski pernah gagal berkali-kali?

Kamis sore (7/10/2021), Roni (24) berangkat tes PNS untuk ketiga kalinya.  Percobaan pertama dan kedua, Roni mendaftar dalam formasi guru dan gagal di tahap seleksi kompetensi bidang (SKB).

Tahun ini, berbekal ijazah magisternya, Roni mendaftar pada formasi dosen untuk sebuah universitas negeri di Lampung. Dia masuk ruang tes sekitar pukul 16.15, dan keluar sekitar pukul 17.00 WIB.

“Lulus tapi gak lolos, Mas,” kata Roni, menghampiri saya seusai tes.

Lulus tetapi tidak lolos. Begitulah Roni menceritakan hasil tes SKD-nya sore itu. Dia lulus passing grade dalam tes Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) CPNS 2021, tetapi setelah dia bandingkan dengan pesaing lainnya yang dia kenal, skornya kalah tipis, atau setidaknya dapat dipastikan bahwa dia tidak akan masuk 3 besar skor tertinggi yang bisa mengikuti seleksi berikutnya.

“Ya sudah, tidak apa-apa. Coba lagi tahun depan,” kata dosen Roni yang samar-samar suaranya terdengar melalui percakapan telepon. Kata Roni, dosen sekaligus mentornya itu sangat berharap Roni lulus seleksi PNS. Oleh karena itu Roni langsung menghubunginya selepas tes.

Skor tes SKD Roni

Roni menunjukkan hasil tesnya. Total skor yang dia dapat adalah 383. Pada ranah tes wawasan kebangsaan (TWK), ia mendapat skor 95; pada tes intelegensi umum (TIU), skornya 100; sedangkan pada tes karakteristik pribadi (TKP), skornya 188. Roni juga menunjukkan beberapa skor pesaingnya yang di antaranya ada dosen-dosennya dulu di kampus. Skor mereka terbagi antara 386-400. Melalui ponselnya, Roni menunjukkan bahwa skor tes CPNS bisa dipantau melalui live streaming di youtube.

“Kecewa, sih, nggak ya. Saya ngerjainnya juga sekadarnya tadi. Cuma ada perasaan gak enak hati sama orang-orang yang sudah berharap sama saya, termasuk dosen saya tadi itu,” kata Roni.

Dari Roni, saya mendapat kontak Berta (25), seorang guru honorer yang tahun ini mengikuti tes PNS untuk kali kedua. Berbeda dengan Roni yang mengaku hanya berusaha sekadarnya, Berta melihat PNS sebagai cita-cita.

“Jadi PNS, kan, artinya pekerjaanya sudah tetap dan ada penghasilan yang jelas setiap bulannya. Kalau kata orang, supaya hidup tenang dan damai karena ada dana pensiun. Menurut gue, sih, (PNS) worth it aja. Kalau dari segi finansial, PNS itu pekerjaan yang standarnya menengah. Kalau dari segi kultur kerjanya emang boring banget, terlalu banyak urusan administrasi. Mungkin itu sisi gak enaknya. Tapi buat gue masih sebanding antara hak dan kewajibannya. Apalagi zaman sekarang, nyari kerja semakin susah.”

Berta bercerita bahwa sedari kecil dirinya memang bercita-cita menjadi guru, yang kini muara karirnya adalah PNS. Dalam situasi yang ia alami, Berta  bercerita sedikit-banyak mendapat ‘dorongan’ dari orangtua yang juga bekerja sebagai PNS.

Dorongan dari diri sendiri dan orang-orang di sekitarnya, membuat Berta berusaha lebih keras dalam menghadapi seleksi PNS tahun ini. Perempuan yang sekarang bekerja sebagai guru berstatus honorer itu mengaku bahwa dibanding sebelumnya, tahun ini dia lebih intens mengikuti kelas dan try out persiapan seleksi PNS.

Diyah Berta Alpina (25), guru honorer

“Selagi umur masih memungkinkan, gue akan coba daftar (PNS) terus, sih.” -Berta (25)

Dari Berta, saya diperkenalkan pada Widyawati (25), karyawati swasta yang berkantor di Jakarta Selatan. Widya yang tahun ini mengikuti seleksi PNS untuk kali ketiga, juga bercerita tentang pengalamannya.

“Awalnya memang gue pikir secara finansial PNS sangat menjanjikan. Apalagi bayangin udah pensiun tetap dapat gaji. Di usia tua nanti, tentu harapannya bisa hidup tanpa menjadi beban siapa-siapa. Itu alasan yang paling masuk akal buat gue. Tapi setelah gue nambah pengalaman kerja di berbagai tempat, sepertinya harapan hidup tenang di masa tua itu bisa diwujudkan dengan berbagai cara. Gak hanya dengan menjadi PNS.”

Widyawati (25), pegawai swasta

Perempuan yang saat ini bekerja sebagai karyawati di salah satu start up yang bergerak di bidang pendidikan itu mengaku bahwa orangtuanya yang bukan PNS tidak pernah memberikan intervensi terkait pilihan karirnya. Meski demikian, stereotip PNS yang kerap dilihat sebagai simbol kemapanan kelas sosial masih ada di lingkungan tempat tinggalnya. Menurutnya, hal itu cukup memengaruhi pola pikirnya.

“Sejujurnya di lingkungan gue, anggapan ‘PNS calon menantu idaman’ itu beneran ada. Ada aja tetangga yang suka pamerin calon menantunya yang PNS. Bahkan, di lingkungan kantor pun, banyak temen kerja yang gajinya lebih dari PNS, tapi masih ikutan tes PNS untuk ngejar pensiunan dan status sosial itu.”

Padahal, kata Widya, bila ketahuan mendaftar PNS, para pegawai itu akan dikenai denda pertanggungjawaban sekitar 40 juta rupiah. Risiko itu tetap ditempuh oleh banyak kawan sekantor Widya demi bisa menjadi PNS.

Selasa (12/10/2021), Widya mengonfirmasi bahwa dia tidak menghadiri tes SKD CPNS yang seharusnya ia ikuti di hari itu. “Berusaha tegas ke diri sendiri,” kata Widya, menjelaskan alasannya.

Memangnya seberapa enak, sih, kerja sebagai PNS?

Mediati Firdausa (25), seorang PNS jabatan guru Bahasa Indonesia di sebuah SMP di Lampung, menceritakan pengalaman kerjanya selama tiga tahun terakhir.

“Berdasarkan pengalaman saya, sama-sama aja mau (kerja) di BUMN, swasta, ataupun PNS. Semua kerjaan ada risikonya, dan menurut saya aspek itu yang harus disadari orang sebelum terjun (bekerja) di satu bidang.”

Mediati Firdausa (25), seorang guru PNS, kedua dari kiri

Menurut Mediati, sekarang banyak orang yang memandang PNS hanya dari satu sisi saja. Hanya membuka mata pada gambaran indah akan hak-hak yang diterima. Padahal, di dalamnya juga ada tanggung jawab dan risiko yang juga harus dihadapi.

“Kalau soal finansial, tentu relatif juga. Artinya harus dilihat dulu kita PNS-nya posisi apa, dan bagaimana pengeluaran atau kebutuhan kita. Yang paling penting harus sadar bahwa pekerjaan bukan cuma PNS. Dan semua pekerjaan ada enak dan gak enaknya.”

Mendengar cerita Mediati tentang pengalamannya, membuat saya bertanya-tanya, apakah sebenarnya gambaran indah menjadi PNS itu hanyalah serupa fatamorgana? Semakin didekati, semakin tak nyata keberadaannya. Jika semua pekerjaan sama saja, mengapa PNS seakan menjadi impian yang paling ideal bagi banyak orang?

***

Sore itu setelah ngobrol panjang lebar tentang seleksi PNS, Roni bercerita bahwa semua gambaran yang diceritakan orang-orang, tampaknya sama sekali tak mengubah ingatan Roni tentang hari-hari menjadi buruh akademis di kampusnya. Satu jenis pekerjaan yang tak ada bedanya bila ia seandainya diterima sebagai PNS.

Tanpa status atau kontrak yang jelas, Roni diberi tugas untuk mengajar, meneliti, dan mengabdi. Tak ada rekaman karir atas pekerjaan yang dia lakukan selama setahun terakhir. Hanya berharap setiap tanggal muda akan dikirimkan uang lelah dari para PNS yang kelasnya dia gantikan, yang penelitiannya dan pengabdiannya dia lakukan.

Boro-boro ada gambaran mapan. Lebih sering nombok,” kata Roni.

Tangkapan layar percakapan Roni dengan salah seorang dosennya

“Katanya saya bisa dapat gaji layak jika lulus PNS. Itu gambaran yang sering didengungkan orang-orang. Tapi bukannya gak ada bedanya dibanding sekarang? Mungkin saat saya mapan, saya bisa seenaknya menyuruh para fresh graduate untuk mengerjakan tugas saya dengan upah gak sepadan. Saya bisa memanfaatkan relasi kuasa agar tanggung jawab saya diringankan mahasiswa bimbingan saya. Apakah itu yang saya inginkan? Menjadi penerus pola yang demikian?”

Tahun depan daftar lagi? Pertanyaan terakhir saya pada Roni sebelum kami bersiap pulang. Sambil tersenyum dia menggeleng. “Nggak, deh. Cukup,” katanya.

***

Tulisan ini merupakan bagian pertama dari serial khusus “Demi Mimpi menjadi Pegawai Negeri”.

Baca bagian selanjutnya: Jalan Pintas Menuju PNS

 

Ghufroni An'ars
Ghufroni An'ars Redaksi Omong-Omong

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email.