Dari Santri hingga Pegawai KPI: Kekerasan Seksual Mengancam Laki-Laki

3 min read

Banyak orang mengira pelecehan seksual tidak mungkin terjadi pada laki-laki. Itu jelas pandangan yang salah. Lihat saja kasus pelecehan seksual yang terjadi di Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan yang baru terbongkar, kasus kekerasan seksual 26 santri di Ogan Ilir, Sumatera Selatan. 

MS, pegawai laki-laki di KPI sejak tahun 2012 mengalami pelecehan seksual di kantor tempat kerjanya sendiri. Setelah lebih dari 10 tahun kasus pelecehan seksual yang dialami oleh MS itu akhirnya terbongkar dan dibicarakan di media nasional.

Menurut pengakuan MS, tahun 2015 pelaku pelecehan seksual beramai-ramai memegangi kepala, tangan, kaki, menelanjangi, memiting, melecehkan MS dengan mencoret-coret buah zakar MS menggunakan spidol. Sehingga peristiwa ini membuat MS trauma dan mengalami gangguan emosi. MS sudah berusaha melaporkan ke pihak kepolisian, akan tetapi belum mendapat penanganan, sampai kemudian MS membuat surat terbuka melalui akun media sosialnya.

Pada tahun 2017, James Van Der Beek, aktor Hollywood juga mengalami pelecehan seksual oleh Harvey Weinstein seorang bos Hollywood. Van Der Beek mengalami perlakuan tubuh bagian belakang pernah diremas oleh beberapa laki-laki yang lebih tua dan berkuasa. Van Der Beek juga pernah merasa disudutkan dalam percakapan berkonten seksual saat dia masih muda. Hal ini juga diungkap dalam media sosial miliknya setelah ada perbincangan tentang perempuan yang juga menjadi korban Harvey Weinstein disudutkan dalam pembicaraan di media sosial. Sebelumnya, tahun 2016, Terry Crews, mantan pemain sepakbola Amerika mengungkapkan pada majalah people, bahwa ia mengalami trauma akibat pelecehan seksual karena Harvey menyentuh area pribadinya di depan istrinya. 

Kasus lain diungkapkan oleh Anthony Rapp yang mengalami pelecehan seksual oleh Kevin Spacey pada tahun 1986 yang kemudian baru diungkap tahun 2017. Rapp mengaku digerayangi dan dibawa ke tempat tidur Spacey. Saat itu Rapp masih berusia 14 tahun. Selain itu Owen Mooney, seorang model, juga mengaku pernah diremas alat kelaminnya oleh desainer Alexander Wong pada tahun 2017. 

Korban pelecehan laki-laki yang lain di Indonesia adalah DS. Tahun 2016, remaja berumur 17 tahun, DS melaporkan bahwa dirinya adalah korban pelecehan seksual yang dilakukan oleh Saipul Jamil. Berawal dari bertemu dalam sebuah ajang pencarian bakat, DS diajak untuk menginap di rumah Saipul Jamil dan diminta untuk memijat. Pelecehan seksual terjadi saat DS sedang tertidur di kamar asisten rumah Saipul Jamil.

Di Sekolah dan Pesantren

Pelecehan dan kekerasan seksual terhadap anak laki-laki kerap terjadi di lingkungan pendidikan, baik sekolah umum maupun pesantren. Baru-baru ini polisi menetapkan tersangka pelaku sodomi 26 santri salah satu pesantren di Ogan Ilir, Sumatera Selatan, yang tak lain adalah pengasuh sekaligus guru di pondok tersebut. Kekerasan seksual telah dilakukan selama bertahun-tahun oleh si pelaku pada santri-santrinya.

Kejadian serupa sebelumnya terjadi di Sekolah Selamat Pagi Indonesia di Batu, Jawa Timur. Sekolah berbasis asrama ini menjadi rujukan sejumlah sekolah di Indonesia, karena mampu menyelenggarakan pendidikan gratis bagi peserta didik yang berasal dari keluarga tidak mampu dan yatim piatu, membekali peserta didiknya dengan keterampilan untuk bekal hidup setelah lulus dari sekolah. Siapa yang menduga, ternyata 21 orang alumni melaporkan kasus pelecehan seksual yang terjadi pada tahun 2008 oleh pemilik sekolah tersebut.

Memilih Diam

International NGO Forum on Indonesian Development (INFID) melalui studinya melaporkan bahwa 33,3 persen laki-laki pernah mengalami kekerasan seksual. Sedangkan perempuan mengalami kekerasan seksual sebanyak 66,6 persen pada tahun 2021. Selain itu INFID juga melakukan survei pada rentang bulan mei-juli tahun 2020 yang menyatakan bahwa 65, 1 persen penduduk Indonesia telah mengalami pelecehan seksual. Komnas Perempuan mencatat sebanyak 962 kasus terjadi pelecehan seksual pada tahun 2020. Sementara tahun 2019, komnas perempuan juga menyampaikan sebanyak 4.898 kasus dan tahun 2018 sebanyak 5.280 kasus. 

Komisioner Komisi Perlindungan Anak dan Perempuan, Retno Listyarti menyebutkan bahwa tahun 2018 korban pelecehan seksual lebih banyak dialami oleh laki-laki. Berbeda dengan tahun 2017, dimana korbannya lebih banyak dialami oleh perempuan. Korban kekerasan seksual tersebar di berbagai daerah. Jumlah korban kekerasan seksual terhadap anak laki-laki mencapai 41 orang di Tangerang, 16 korban di Jakarta, dan 65 korban di Surabaya. Sebagian besar korban masih duduk di Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama. 

Mengapa jumlah laki-laki lebih sedikit daripada perempuan, hal ini disebabkan karena laki-laki lebih tertutup untuk melaporkan kasus pelecehan seksual yang dialaminya. Hal ini disebabkan terdapat stigma dalam masyarakat bahwa laki-laki identik dengan kuat dan tidak mungkin mengalami pelecehan seksual. Rasa malu juga muncul, dari dalam diri laki-laki saat melaporkan dirinya sebagai korban pelecehan seksual.

Menurut pakar psikolog forensik, Reza Indragiri, kasus pelecehan seksual adalah kasus kejahatan yang paling sulit diungkap, Reza mengungkapkan hal ini melalui wawancara sapa Indonesia Malam Kompas TV. salah satu penyebabnya karena korban pelecehan seksual tidak pernah segera mengakui mengalami pelecehan seksual. Contoh kasus Rapp, kasusnya baru terungkap setelah tiga dekade lamanya. Kemudian kasus pelecehan seksual yang terjadi di Sekolah Selamat Pagi Indonesia juga baru terungkap setelah 13 tahun kemudian.

Pelecehan seksual menjadi ancaman besar bagi semua orang. Lalu, apa usaha yang harus dilakukan oleh pemerintah, pendidik dan orang tua untuk menekan kasus pelecehan seksual? Perlindungan hukum menjadi kebutuhan mendesak untuk pencegahan dan penanganan kasus pelecehan seksual.  Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual adalah bentuk dari perlindungan hukum tersebut. Ironisnya, sampai hari ini RUU PKS masih belum disahkan oleh DPR.

Peran Keluarga dan Pendidikan

Pelecehan seksual ini juga membutuhkan peran serta orangtua dalam memberi pendidikan seksual sejak dini. Menyebutkan vagina dan penis sebagai panggilan untuk menyebut alat kelamin mereka sendiri, akan memunculkan dampak yang baik. Anak akan bangga dengan alat kelaminnya sendiri. Ketika orangtua memberi nama lain untuk alat kelamin, anak akan menjadi malu untuk membahas tentang hal-hal yang berkaitan dengan alat kelaminnya. Kebanggaan terhadap alat kelamin ini membuat anak mampu menjaga diri dari pelecehan seksual yang bisa terjadi. Pendidikan seksual sejak dini dalam pelaksanaannya masih mengalami hambatan, karena sebagian besar masyarakat masih menganggap tabu membicarakan hal ini kepada anak saat di rumah. 

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi juga harus merancang sistem pendidikan yang bisa mendorong para pendidik untuk memberi informasi tentang pendidikan seksual dengan pendekatan yang disukai oleh remaja. Pemerintah daerah juga harus memberi dukungan, melalui bidang Dinas Pemberdayaan Anak, Perempuan dan Keluarga Berencana yang juga memiliki program Generasi Berencana, dengan membentuk Pusat Informasi Konseling Remaja. 

Pelecehan dan kekerasan seksual bisa terjadi pada siapa saja, dalam berbagai strata kehidupan, di berbagai tempat yang mungkin tidak kita duga sebelumnya. Pelecehan dan kekerasan seksual adalah ancaman besar yang menghantui kita semua. Orangtua, guru dan sistem pendidikan harus segera mengambil langkah untuk melindungi anak-anak bangsa. 

PIPIT ASRININGPURI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email.