Dari Rumah, Kami Dipaksa Mencintai Bumi

Kartika Puspitasari

2 min read

Menjaga bumi butuh komitmen setiap individu, setiap keluarga. Setiap pilihan dan langkah kita berarti.

Suatu waktu, anak perempuan saya berteriak ketika menemukan sebuah makhluk yang menjijikan di depan pintu. Larva sebesar kelingking yang berkerut mirip seperti ulat, berkedut dan menggeliat. Entah bagaimana larva bernama maggot itu bisa sampai ke dalam rumah.

Baru kemudian kami tahu, maggot itu berasal dari instalasi pengurai sampah organik yang dipasang suami saya di atap bagian depan rumah. Dari tempat itulah maggot merambat turun, memasuki pintu rumah dan menimbulkan teriakan histeris.

Tak lama berselang, pecahlah keributan antara saya dan suami. Saya tak mau rumah kami dimasuki maggot-maggot itu. Walau sebenarnya mereka adalah makhluk lemah dan tak berdaya, saya tak sanggup melihat penampakan maggot yang membuat saya jijik dan geli. Suami saya berkeras. Ia panjang lebar menyampaikan bahwa maggot adalah organisme baik yang sanggup mengurai sampah organik  dengan cepat, sehingga sampah sisa dapur yang saya kumpulkan setiap hari dapat diolah menjadi pupuk organik.

Setelah melalui perdebatan panjang, saya mengalah. Instalasi pengurai limbah tetap terpasang di atap, namun kali ini ditambah pengaman agar larva lalat Black Soldier Fly (BSF) tidak keluar dari area instalasi.

Setiap kali selesai memasak atau mencuci piring setelah makan, kami diwajibkan mengumpulkan sisa sayur mayur dan makanan ke dalam satu wadah khusus. Nantinya, suami saya akan membawa sisa makanan tersebut untuk dikumpulkan di instalasi pengurai limbah. Setumpuk sisa sayur mayur dan sisa makanan dapat terurai dan berubah menjadi kompos bagi tanaman.

Awalnya memang ada rasa kesal di hati. Ribet amat, sih! Apalagi benar-benar harus jeli, jangan sampai tercampur dengan potongan plastik pembungkus makanan ke dalam sampah organik. Memisahkan sampah masih dianggap oleh banyak orang sebagai hal yang aneh, termasuk oleh asistem rumah tangga kami. Tetapi lama-kelamaan kami pun mulai terbiasa dengan aturan itu.

Baca juga Semua Salah Cuaca?

Tak hanya soal sampah, komitmen cinta bumi juga diterapkan suami saya dengan memasang panel surya sebagai sumber listrik di rumah kami. Hal ini juga sempat membuat saya sewot, sebab harga panel surya jelas tidak murah. Investasi yang dikeluarkan untuk panel surya setara dengan membayar listrik PLN selama 8-10 tahun. Memang, panel surya membuat kami tak lagi perlu membayar tagihan listrik setiap bulan. Tapi tetap saja, tak mudah untuk rela mengeluarkan uang demi memasang panel surya.

Berkat panel surya, saat ini kami sudah bisa menikmati listrik gratis untuk konsumsi harian, termasuk menggunakan peralatan listrik untuk memasak. Meski demikian, kami berusaha mendidik anak-anak kami untuk tetap menggunakan energi listrik dengan bijak. Misalnya, jika udara tidak terlalu panas, alih-alih menyalakan AC, kami memilih menggunakan kipas angin. Suami saya juga membuat otomatisasi untuk sebagian besar lampu di rumah  sehingga ketika tidak ada orang di dalam ruangan, secara otomatis lampu akan padam.

Terlihat berjalan baik, tapi bagi keluarga yang masih perlu mempersiapkan masa depan tiga orang anak, idealisme ini menurut saya merupakan sebuah keputusan besar.

Baca juga Suara Bumi dalam Perikemanusiaan

Untuk membuat rumah kami lebih sejuk, kami pun berusaha memperbanyak tanaman di teras maupun di halaman kami yang tidak terlalu luas. Kami menanam aneka tanaman, yang merambat maupun menjuntai, tanaman hias maupun tanaman buah dan sayur. Awalnya hobi tanaman ini memang menarik, apalagi melihat tanaman hias yang tertata rapi dalam pot-pot tanah liat yang artistik. Namun lama kelamaan, ternyata memelihara tanaman butuh konsekuensi ruang tumbuh.

Tanpa disadari sekarang teras rumah saya sudah dipenuhi dengan rambatan monstera, juntaian lee kuan yew, rumpun-rumpun calathea, janda bolong, keladi dan kaktus. Rumah saya telah berubah menjadi hutan yang tidak terkonsep, lengkap dengan ekosistem pendukungnya;  ulat, belalang, lebah dan kupu-kupu. Namun, hutan rumahan ini justru menjadi laboratorium sains bagi anak-anak. Ketika anak saya menemukan seekor serangga, kemudian mengambil foto melalui google lens, dengan segera mereka bisa memperoleh ilmu sains baru tentang insecta.

Mencintai bumi dan lingkungan itu memang butuh hati yang lapang dan komitmen yang kuat, apalagi hasilnya tidak bisa kita nikmati sekarang. Banyak hal yang harus kita korbankan untuk bisa mempertahankan ekosistem dan lingkungan hidup tetap seimbang.

Menyingkirkan ego dengan sedikit kerepotan memilah sampah, berteman dengan aneka serangga, dan mungkin dianggap aneh oleh sekitar karena rumah terlihat seperti belantara, dan tentu saja harus bekerja lebih semangat untuk berinvestasi pada energi terbarukan.

Mencintai bumi dan lingkungan bagaikan  melawan arus di tengah jutaan manusia yang tidak percaya pada pemanasan global, pencairan es di kutub utara, banjir bandang karena penggundulan hutan, punahnya ekosistem, bahkan ancaman krisis pangan. Mencintai bumi dan lingkungan harus penuh dengan keyakinan, bahwa sekecil apa pun yang kita lakukan akan menjaga kelangsungan kehidupan masa depan.

Lanjut baca: Editorial: Jokowi Govt Justifies Forest Destruction for Development, But What Development?

Kartika Puspitasari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email.