Muhammad Fahruddin Al Mustofa Esais partikelir. Pelapak buku di @bukuprodeo.

Buna lebih Intel dari Intel

1 min read

Diktum 9.0

pungli makin liar

air bah informasi

orang dalam mengelap dasi

 

“silakan tuan, ini barang baru.”

aku virtual, kamu virtual

bercinta di kolom partisipan

zoom gratisan, sinyal ngadat

gagal orgasme, kick saja

mukanya ngeselin

ojol dan pinjol beradu bogem

negara masuk UGD, burung garuda batuk-batuk

ada apa dengan Zara-Okin?

Buna lebih Intel dari Intel

JRX lupa ngambil surat vaksin,

dan kita yang masih terus bertanya tentang kemerdekaan itu sendiri

2021

 

Manuskrip yang Tak Usai 

seperempat matamu jatuh

di atas kasur lumpuh

yang kaki-kakinya dipenuhi rayap

dan luka-lukanya dikerumuni nestapa

 

kau bilang padaku, menua bersamaku

tentu barang yang mahal, porselen cina

yang mudah pecah, dan khayalmu bebas

dari nilai-nilai dan angka-angka

 

ini tidak ada hubungannya dengan

kabar-kabar duka, obituari

penuh dusta, atau kisah-kisah rekaan

yang ditulis jurnalis malas

 

ini adalah kisah antara aku dan kamu

naskah kuno yang tenggelam di lautan

tanpa nama, dan sialnya, kita belum sempat

menyelesaikan; bahkan untuk mengatakan

perpisahan; bahkan untuk mengenang ciuman pertama di malam terkutuk;

penuh amuk wabah

 

2021

 

Kebudayaan Nasi Bungkus

sebungkus nasi campur

lauk tahu bacem, semur

daging dan potongan

kebudayaan

 

di luarnya, puisi yang

meraung-raung minta

diperhatikan

 

sebelum cuci tangan

ia bersihkan sambal dan

bumbu-bumbu bahasa

yang menempel di

sela jari tangan dengan

lidah opininya yang lincah

 

lalu membuang kertas minyak

dan sisa sayur kolom tercecer

ke dalam tong sampah

pembendaharaan lama

 

tanpa tahu siapa penyair

yang kegirangan puisinya

masuk koran Minggu Pagi

dan seniman kelaparan

yang membuat ilustrasi

dan belum sempat makan

nasi semalam dan apesnya

ketiduran

 

2021

 

Elegi Sidoarjo

sidoarjo sore ini adalah
genangan keringat buruh pabrik
yang meleleh membasahi aspal
beradu dengan nasib dan info chip

sidoarjo petang ini sebuah tempat
singgah bagi pekerja luar kota
yang menyalakan malam dengan
kehangatan keluarga dan listrik
kosan yang njeglek melulu

dan sekali lagi, Sidoarjo tengah malam
memeluk apa-apa yang luruh
merapikan segala yang tercecer
dan menyuntikkan harapan baru
pada tubuh-tubuh layu
agar bugar di pagi hari penuh kabut
ketidakpastian

2021

 

Kehilangan yang ke Sekian Kalinya

waktu menguar

bau kesedihan

 

dan sepiring malam

terhidang di dadamu

 

asinan air mata

mengendap dan

 

berkejaran dengan

isak tak henti-henti

 

kini,

 

masih saja kau bertanya

warna langit ketika

hutan-hutan terbakar

dalam tengkukmu

 

kini,

 

masih saja kau berkata

berapa kali lagi aku harus

tabah saat semua telah pergi

dan tidak pernah putar balik

sekali lagi

 

2021

Muhammad Fahruddin Al Mustofa
Muhammad Fahruddin Al Mustofa Esais partikelir. Pelapak buku di @bukuprodeo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email.