Muhammad Fahruddin Al Mustofa Esais partikelir. Pelapak buku di @bukuprodeo.

Balada Starry Night

1 min read

Semua Ada di Dalam Diri

untuk kriapur

 

sekali lagi kubenamkan kepalaku

pada arus sungai yang dalam

ikan-ikan berebutan mencucuki

mataku yang mulai mengucurkan

darah dan tiba-tiba genangan

merah membanjiri tubuhku

tenggelam tak tersisa

 

segalanya telah kupertaruhkan

pada batu kali, batang bambu yang

tersangkut di bibir dan

bangkai tikus mengambang

arak-arakan seisi desa

menemukan jasadku

tanpa kepala, tanpa identitas

 

nisan yang hampir pecah

mencatat nama dan tanggal

dimana aku menghilang

seketika itu kuangkat kepalaku

dari dalam tanah benar-benar

ringan tanpa beban dan duka

yang selama ini membatu

dalam diri mulai mencair

menyusun ulang aku

sekali lagi

 

2021

 

Balada Starry Night

untuk gogh

 

sebelum Van Gogh

melukis, ia sisakan

nyawa pada kuas

cat air yang terbuat

dari potongan cinta

air laut dan langit

tumpah dalam biru

 

lagi-lagi ia kehilangan

pada wanita-wanita yang

tak pernah ia miliki semua

luruh dalam banjir air mata

yang menyeret pada dunia

paralel tak ada pintu keluar

apalagi kunci duplikat

 

kecuali kita mati

terkubur dalam kanvas

dan abadi di gerai-gerai

pameran dan dilelang

para kurator lalu dipajang

di WC buat teman ngobrol

saat menangis diam-diam

 

2021

 

 

Petuah Burung-Burung

kepada may

 

burung-burung terbang ke barat

tidak untuk mencari kitab suci

hanya mencari rumah yang

lama yang ditinggalkan

 

diriku adalah tawanan tanpa

batas waktu kapan dibebaskan

kuserahkan segalanya di malam itu

saat mataku pertama kali menatapmu

saat duniaku berputar dalam kesunyian

matamu

 

dan burung-burung tetap saja beterbangan

mencari makan untuk anak-anak mereka

agar tetap bisa terbang tanpa pernah lagi

jatuh cinta dan terbelenggu sedemikian rupa

 

“bukankah cinta itu membebaskan,” teriak burung-burung dari atas langit biru.

 

Singkaplah Kaca Itu

di ruang hampa

tanpa masa dan waktu

keduanya hanyalah tiada

 

di pikiran tuhan yang ramai

ia begitu suwung hanya ada

dirinya yang kuasa dan terpantullah

wujudnya melalui kaca bening

ia ingin dikenali dan dikenang

 

ia begitu bosan, ia ciptakan

aneka ragam cahaya, langit

dan bumi, masih saja ia merasa

gundah dan sepi

 

bentar lagi, pukul sepuluh malam

harusnya ia ada yang menemani

sebelum makan malam dingin

sebelum ia tak lagi berdaya

pada dirinya sendiri

 

2021

 

Ada Apa dengan Lampu Merah?

roda-roda motor bebek

berkejaran dengan harapan

jalanan yang sesak

dan cita-cita yang tanggal

dalam melodi tanggal tua

 

angan disapu debu

angin menghempaskan

bayang-bayang

tentang hunian nyaman

dan sebungkus ayam goreng

dan lalapan untuk makan malam

tanpa cuci mulut langsung

cuci kaki dan terlelap

 

2021

Muhammad Fahruddin Al Mustofa
Muhammad Fahruddin Al Mustofa Esais partikelir. Pelapak buku di @bukuprodeo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email.