Nenek moyang kita bukan pelaut, tapi ketiadaan.

Bahasa Indonesia yang Bertumbuh dan Bertambah

Rido Arbain

1 min read

Suatu hari, saya bersama seorang teman memasuki sebuah kedai kopi berkonsep sederhana. Di dekat pintu masuknya, kami langsung disambut oleh sebuah rak buku yang berukuran tak terlalu besar, tetapi koleksi buku yang dipajang cukup banyak. Saya mengambil satu judul buku untuk dibaca nantinya, sementara teman saya langsung menghampiri seorang barista untuk memesan minuman kopi.

Bumi Manusia itu apa, Mas?” tanya teman saya, yang tak langsung dijawab oleh sang barista. “Kalau Hujan Bulan Juni?” teman saya bertanya lagi dengan nada penuh penasaran. Saya yang gatal mendengar obrolan janggal itu pun beranjak menghampiri mereka.

“Oh, itu judul buku. Menu kopinya pakai judul buku,” kata saya menginterupsi sesi tanya-jawab mereka dengan maksud memberi pencerahan. Si barista mengangguk sembari tersenyum canggung sementara teman saya hanya berseru, “Oalah!”

Saya tak menyalahkan teman saya karena tak mengetahui judul-judul buku tersebut ataupun tak mengenal pengarang besar sekelas Pramoedya Ananta Toer dan Sapardi Djoko Damono. Saya hanya menyayangkan ia tak membaca dengan teliti tulisan kecil yang tertera di papan menu. Di sana tertulis jelas komposisi menu kopi yang diberi nama Bumi Manusia itu: espreso, susu, gula aren, dan krimer.

Kejadian tersebut mengingatkan saya tentang pentingnya kesepakatan dalam komunikasi berbahasa. Seandainya teman saya ingin memesan menu soda gembira, misalnya, tentu ia tak perlu susah payah menanyakan apa itu soda gembira. Meski saya tak yakin apa makna gembira pada nama minuman tersebut, kita sudah lebih dulu sepakat bahwa soda gembira merujuk pada jenis minuman dengan campuran soda, susu, sirop, dan es batu.

Permainan-permainan bahasa dalam penamaan menu minuman—begitu juga makanan—sebetulnya terkadang lucu. Namun, ketika penamaan itu sudah diterima dengan baik sebagai suatu kesepakatan bersama, tentu tak akan ada orang yang mempermasalahkan.

Samsudin Adlawi, seorang jurnalis senior yang bertahun-tahun mengisi rubrik khusus bahasa di beberapa majalah ternama, sebutlah Jawa Pos dan Tempo, pernah merangkum berbagai fenomena bahasa dalam kumpulan esainya yang diberi judul Makan Kapal Selam. Dalam buku tersebut, ia menyanjung kecerdasan masyarakat Indonesia dalam berbahasa, terutama saat menciptakan nama-nama unik dalam dunia kuliner. Sebut saja, misalnya, pisang molen, permen karet, bakso granat, rawon setan, hingga kapal selam yang ternyata dapat dimakan.

Meskipun demikian, tak jarang Samsudin Adlawi juga mengkritisi kegagapan masyarakat kita dalam berbahasa yang baik dan benar. Bahkan, dalam salah satu tulisannya, ia secara tegas menyinggung lembaga negara yang sering inkonsisten dalam membuat istilah. Contohnya, penyebutan SIM (surat izin mengemudi) yang semestinya adalah kartu dan KK (kartu keluarga) yang seharusnya disebut surat. Ia menyayangkan mengapa institusi Polri idem ditto dengan Kemendagri dalam mempertahankan kekeliruan itu.

Mungkin karena terlalu sibuk dengan rutinitas keseharian, mengejar cuan dari pekerjaan, atau tenggelam dalam arus informasi yang serba cepat, kita tak menyadari betapa bahasa Indonesia itu sangat dinamis. Tak hanya bertumbuh, bahasa Indonesia juga bertambah.

Baca juga:

Pada akhirnya, meskipun kita belum sepakat kalau Bumi Manusia atau Hujan Bulan Juni dijadikan nama sebuah menu kopi, setidaknya kita tak menjadikan itu sebagai alasan untuk bentrok. Kita tak harus selalu sepakat, tetapi semua hal seharusnya bisa dikomunikasikan. Toh, kita tak pernah meributkan penamaan Janji Jiwa untuk jenama kopi kekinian walaupun frasa itu cenderung lebih menyerupai judul puisi.

Dalam salah satu buku kumpulan esainya yang berjudul Tragedimu Komediku, Eka Kurniawan pernah mengatakan bahwa bahasa memberi ruang untuk beragam salah paham sekaligus ruang untuk saling mengerti. Saya tentu saja sepakat dengan pernyataan Eka.

 

Editor: Emma Amelia

Rido Arbain
Rido Arbain Nenek moyang kita bukan pelaut, tapi ketiadaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email