Nenek moyang kita bukan pelaut, tapi ketiadaan.

Badrun, Loundri, dan Simbol-Simbol Politis

Rido Arbain

2 min read

Susanne K. Langer dalam Semiotika Komunikasi pernah mengungkapkan bahwa simbolisasi adalah kebutuhan pokok manusia. Sebagai pengguna dan penafsir simbol, sayangnya manusia kadang bersikap irasional dengan menganggap seolah-olah ada kemestian atau ada hubungan alamiah perihal simbol yang dikenakan oleh manusia lain.

Mungkin keresahan inilah yang mendasari Garin Nugroho menghadirkan kritik cerdiknya lewat film drama terbarunya, Badrun & Loundri (2023). Film ini sarat muatan politis seperti Daun di Atas Bantal (1998), tetapi dikemas dengan pendekatan yang lebih ringan menyerupai filmografinya yang lain, Rindu Kami Padamu (2004).

Suatu hari di tengah hujan deras, Badrun yang berusia 55 tahun tampak sedang duduk berteduh di depan sebuah toko bertuliskan “Loundri Mama Eros”—di Banjar, latar film ini dibuat, mungkin tak pernah akrab dengan istilah penatu sehingga kata asing seperti laundry diserap menjadi loundri. Tak lama berselang, datanglah seorang wanita paruh baya membawa tas berisi pakaian untuk dicuci di penatu. Menyadari toko tutup, tas tersebut malah ia titipkan kepada Badrun.

Adegan yang terjadi kemudian adalah awal mula konflik film ini. Saat memeriksa isi tas, Badrun menemukan berbagai macam pakaian seakan-akan itu adalah kantong ajaib Doraemon. Demi menghangatkan diri di tengah dinginnya hujan, dari dalam tas ia mengambil baju terusan gamis, lalu menemukan serban untuk menutupi kepalanya. Sebentar kemudian, ia pun meninggalkan toko penatu itu. Di tepi Sungai Bakung, Kabupaten Banjar, penduduk setempat yang belum mengenal sosok dan asal-usul Badrun mulai mengira bahwa ia adalah seorang haji yang baru pulang dari tanah suci, lantas bepergian ke berbagai tempat ibadah untuk menyampaikan dakwah agama.

Pada hakikatnya, alat komunikasi manusia tidak hanya berupa bahasa lisan, tulisan, atau bahasa isyarat, melainkan juga bahasa rupa seperti tanda simbol. Simbol sebagai bahasa rupa pun muncul dalam suatu konteks atau situasi tertentu.

Di beberapa daerah dengan kultur agamis seperti di Banjar, memang masih jamak ditemukan kelompok masyarakat yang fanatis terhadap tokoh-tokoh berpenampilan islami. Lihatlah bagaimana kedatangan Badrun lantas disambut layaknya sang juru selamat; sesaat ia diminta menjadi imam masjid, lalu mendoakan murid yang akan ikut ujian sekolah, memercikkan air suci kepada anggota tim bola yang akan bertanding, hingga diminta menjadi konsultan politik bagi calon legislatif jelang pemilukada.

Meskipun makna simbol berpakaian memang bisa diarahkan oleh pemakainya, makna itu juga bisa menjadi ruang yang bebas ditafsirkan bagi orang yang melihatnya. Misalnya, pada satu adegan, Badrun tiba-tiba memutuskan untuk memakai seragam polisi yang ia dapati dari dalam tas penatu. Dipertegas pernyataan bahwa ia diperintahkan oleh jenderal polisi untuk menyamar, Badrun pun mulai menjalankan tugasnya sebagai polisi gadungan. Konflik semakin rumit tatkala ia mulai menerima suap dan bahkan melindungi tindakan kriminal yang dilakukan para preman lokal.

Baca juga:

Saya jadi teringat kembali peristiwa lengsernya K.H. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dari jabatan Presiden Republik Indonesia pada 2001 silam. Kala itu, almarhum Gus Dur keluar dari istana untuk menyapa pendukungnya dengan hanya mengenakan celana pendek dan kaus berkerah. “Itu supaya saya enggak dianggap sebagai presiden,” kata Gus Dur ketika ditanya alasannya. Jelas, beliau paham betul bahwa pakaian yang dikenakan bisa mengandung makna politis tertentu.

Pakaian yang menempel pada tubuh manusia memang memiliki kekuatan untuk “berbicara” tentang politik. Baju, celana, hingga perpaduan aksesoris yang dikenakan seseorang bisa menjadi penanda bagi identitas kelompok tertentu, sekaligus menciptakan politik pembedaan bagi kelompok lainnya. Melalui mekanisme semacam itu, artinya atribut pakaian menjalankan fungsinya sebagai pembentuk citra sekaligus penanda sosial.

Menarik pula bagaimana Garin Nugroho mengakhiri Badrun & Loundri dengan satu adegan penuh makna simbolis, lalu dilengkapi dialog yang sangat multitafsir. Bahkan, kalimat keheranan itu meluncur dari mulut Badrun, menandakan bahwa ia pun terjebak dalam arus politik yang ia buat sendiri.

Ini sandiwara apa? Ini sandiwara siapa?

 

Editor: Emma Amelia

Rido Arbain
Rido Arbain Nenek moyang kita bukan pelaut, tapi ketiadaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email