Setiap kali seseorang bercanda tentang apem, sebagian orang akan tersenyum. Mereka menganggapnya sebagai lelucon khas Jawa—jenaka, menggoda, dan “tidak perlu dibawa serius.” Tetapi di balik tawa itu, ada sesuatu yang jauh lebih gelap: sesuatu yang jarang diakui karena bersembunyi di balik permainan bahasa. Padahal apem hanya makanan. Tetapi di tangan sebagian masyarakat, ia berubah menjadi eufemisme yang merendahkan—alat linguistik untuk mereduksi vagina menjadi sebuah komoditas, sekaligus mensterilkan rasa bersalah yang seharusnya menyertai objektifikasi.
Saya ingin mengajak kita melihat persoalan ini bukan sebagai isu sepele, tetapi sebagai contoh bagaimana bahasa dapat menjadi instrumen kekuasaan. Bahasa bisa menjadi lucu, tetapi juga bisa melukai tanpa meninggalkan jejak. Kekerasan yang bekerja diam-diam justru sering dianggap wajar.
Fenomena penyamaan tubuh perempuan dengan makanan bukan hal baru. Apem, pepaya, semangka, bahkan gorengan—semuanya menjadi metafora erotis yang beredar bebas dalam percakapan sehari-hari. Sosiologi menunjukkan bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi; ia adalah alat legitimasi.
Baca juga:
Ia membentuk cara pandang, menormalisasi relasi kuasa, dan menentukan apa yang masyarakat anggap pantas atau tidak pantas.
Ketika tubuh perempuan disamakan dengan makanan, ia direduksi menjadi objek yang bisa dicicipi, dinilai, dan diperbincangkan. Tubuh perempuan tidak lagi dipandang sebagai entitas manusia, tetapi sebagai komoditas yang tersedia untuk konsumsi publik. Dan karena semua itu dibungkus dalam humor, pelakunya terbebas dari beban moral. “Kan cuma bercanda.”
Di sinilah bahayanya: humor melindungi pelaku, sekaligus membungkam korban. Perempuan yang keberatan dianggap “baper”, “kurang gaul”, atau “nggak bisa diajak santai”. Kekerasan verbal justru dilegitimasi oleh tekanan sosial untuk diam.
Dalam riset kecil terhadap konten-konten viral, muncul berbagai contoh penggunaan kata apem sebagai istilah gaul untuk merujuk pada organ intim perempuan:
“Apem artis cuma Rp80 juta, apem janda nyawa taruhannya, mahalan mana?”
“Hasil survei: pria lebih suka apem berbulu, ini alasannya…”
“Rejeki dukun beranak bisa lihat apem cewek satu kampung.”
Kalimat-kalimat itu bukan sekadar bahasa erotis; ia adalah penanda bahwa tubuh perempuan diperlakukan sebagai objek ekonomi, hiburan, dan gosip. Ia menormalisasi pandangan bahwa tubuh perempuan boleh dibahas seenaknya, bahkan tanpa kehadiran atau persetujuan perempuan itu sendiri.
Pertanyaannya: mengapa apem begitu mudah diasosiasikan dengan daerah kewanitaan?
Jawabannya sederhana—dan itu pula yang membuatnya problematis. Secara visual, apem memiliki bentuk yang dianggap “relevan”: bulat pipih, montok, kenyal, berpori, dan lembut. Aromanya, yang merupakan paduan tepung beras, gula, santan, dan tape, kadang dideskripsikan dengan cara yang sengaja diseksualkan. Dalam banyak percakapan, apem juga dikaitkan dengan tekstur “mekar”, “merekah”, atau “serat halus”—semua imajinasi yang diarahkan untuk membangun asosiasi seksual yang implisit.
Dengan kata lain, masyarakat menggunakan objek makanan yang tidak berbahaya untuk menyamarkan pembicaraan tentang tubuh perempuan. Bahasa ini bekerja seperti selimut: menutupi hasrat, mensterilkan rasa bersalah, sekaligus memberi ruang bagi fantasi yang tidak berani disebutkan secara langsung.
Saya pernah menemui kasus seorang perempuan—sebut saja Sari—yang menjadi korban humor semacam ini di tempat kerjanya. Ia hanya membantu berjualan, tetapi ucapan orang-orang tentang “apem”-nya membuat reputasinya tercoreng. Komentar-komentar itu berubah menjadi rumor, dan rumor menjadi stigma. Yang menyedihkan, tidak hanya laki-laki yang ikut-ikutan, tetapi juga perempuan lain. Ini membuktikan bahwa patriarki bukan hanya persoalan laki-laki menindas perempuan, tetapi struktur sosial yang direproduksi semua orang tanpa sadar.
Baca juga:
Kasus Sari hanyalah satu dari sekian banyak kisah di mana humor menjadi pintu masuk bagi kekerasan simbolik. Bahasa tidak pernah netral. Ia menentukan siapa yang layak dihormati dan siapa yang boleh dijadikan bahan tertawaan.
Masyarakat sering mengatasnamakan “budaya” untuk mempertahankan candaan semacam ini. Tetapi budaya bukan sesuatu yang beku. Budaya adalah hasil negosiasi sosial yang terus berubah. Jika suatu tradisi melukai orang, kita berhak—bahkan wajib—mengoreksinya. Sama seperti kita menolak budaya kawin paksa atau kekerasan atas nama adat, kita juga bisa mengkritik humor yang merendahkan martabat manusia.
Lalu bagaimana kita membangun bahasa yang lebih manusiawi tanpa mematikan humor?
Pertama, akui bahwa humor tidak pernah benar-benar polos. Ia membawa bias, nilai, dan hierarki sosial. Maka pertanyaannya bukan “apa yang lucu?”, tetapi “siapa yang terluka?”.
Kedua, hentikan budaya “jangan baper”. Menolak kekerasan verbal bukan tanda kelemahan, tetapi tanda kesadaran.
Ketiga, tanyakan pada diri sendiri: apakah saya nyaman jika tubuh saya atau tubuh keluarga saya diibaratkan sebagai apem dalam obrolan publik? Jika jawabannya tidak, maka jelas ada yang salah dengan candaan itu.
Pada akhirnya, ini bukan tentang apem. Ini tentang martabat manusia. Tentang cara kita memandang perempuan dalam masyarakat yang masih dipengaruhi struktur patriarki. Humor tidak boleh menjadi alasan untuk menyakiti. Tradisi tidak boleh menjadi alasan untuk mengobjektifikasi.
Lewat tulisan ini, saya ingin menyampaikan satu hal dengan tegas: objektifikasi atas nama humor tetaplah kekerasan. Dan kekerasan, sekecil apa pun bentuknya, tidak boleh dinormalisasi.
Semoga suatu hari nanti, apem kembali menjadi sekadar kue—bukan metafora yang merendahkan, bukan eufemisme yang menyakitkan, dan bukan senjata yang melukai secara diam-diam. Hanya makanan sederhana yang kita nikmati tanpa beban moral apa pun. (*)
Editor: Kukuh Basuki
