Melihat kejujuran dari mata anak-anak

Apa yang Menyulut Perundungan?

Fatwa Amalia

2 min read

Saya menemukan komentar unik di kolom Instagram berita anak artis yang melakukan perundungan kepada temannya di sekolah. Komentarnya seperti ini, “Padahal sekolah mahal, kok masih terjadi perundungan?” Saya hanya tertawa dan membalasnya dengan komentar, “Emang perundungan itu penyakitnya orang miskin, ya?”

Ketika berbicara tentang kejahatan dan kriminalitas, masyarakat miskin sering kali menjadi sasaran tuduhan dan stereotip yang tidak adil. Fenomena ini mencerminkan lebih dari sekadar pandangan permukaan, saya bisa menyebutnya akar dari ketidakadilan sosial.

Orang-orang miskin sering dianggap pemalas dan tidak bertanggung jawab. Bahkan sistem hukum kadang-kadang cenderung memberlakukan hukuman yang lebih berat terhadap orang-orang miskin daripada mereka yang kaya.

Baca juga:

Ternyata stereotip ini merambat sampai pada pendidikan. Masyarakat masih ada yang berpikiran bahwa sekolah mahal menjamin segalanya, termasuk bebas dari perundungan. Hal ini jelas muncul karena adanya status sosial dan ekonomi pada pendidikan. Padahal pendidikan terbaik semestinya dapat diakses oleh siapa pun tanpa memandang miskin atau kaya.

Kira-kira, apakah benar pelaku perundungan hanya berasal dari latar belakang ekonomi yang rendah? Sepertinya dalam hal ini nasib orang-orang di antara garis kemiskinan terjerat lebih tajam melebihi mata pisau.

Ada beberapa alasan pelaku perundungan tidak hanya berasal dari masyarakat miskin. Perundungan bisa dipengaruhi oleh dinamika sosial, psikologis, dan lingkungan. Perilaku ini jelas tidak mengenal batasan sosial atau ekonomi dan bisa terjadi di lingkungan mana saja, baik itu sekolah mahal, sekolah negeri, atau sekolah tinggi sekali pun.

Lingkungan dan nilai-nilai yang diajarkan oleh keluarga juga memainkan peran penting dalam membentuk perilaku seseorang terkait dengan perundungan. Tidak semua keluarga miskin mengajarkan perilaku perundungan kepada anak-anak mereka, begitu juga sebaliknya.

Penyebab Perundungan

Penyebab perundungan ternyata multifaktor. Anak yang mendapat kekerasan dari orang tua cenderung melakukan hal serupa. Apalagi jika sekolah abai dan tidak menindak pelaku perundungan.  Ada pula fakta bahwa sebagaian besar pelaku perundungan adalah korban perundungan. Hal ini bisa terjadi karena dia memiliki kepercayaan diri yang rendah. Mereka menjadi pelaku perundungan karena marasa perlu mendapat power dari orang lain agar harga dirinya kembali.

Ketika berbicara tetang perundungan, jelas banyak yang berpendapat bahwa pola asuh orang tua memiliki dampak besar. Pola asuh yang otoriter, terlalu memanjakan, atau bahkan acuh tak acuh dapat mengarah pada ketidakstabilan emosional dan perilaku yang tidak terkendali pada anak. Namun, apakah ini secara otomatis berarti orang tua harus dipersalahkan atas perundungan yang terjadi?

Orang tua (artis) yang anaknya melakukan perundungan kepada teman sekolahnya terkenal baik dan peduli dengan keluarga. Namun, nyatanya perundungan masih terjadi, tentu bukan karena orang tua atau sekolah mahal. Pengaruh lingkungan dan media sosial yang semakin besar menjadi faktor yang perlu ditandai.

Ketika remaja, anak-anak cengerung memiliki keinginan diterima dalam suatu kelompok. Perundungan bisa terjadi karena anak ingin menunjukkan solidaritasnya kepada kelompok. Kemudian tidak jarang tindakan merundung dianggap sebagai hal yang keren dalam lingkungannya. Anak akan mendapat pengakuan bahwa dia hebat karena berhasil merundung anak lain.

Hal selanjutnya adalah hal yang cukup menakutkan. Sebagai guru SD, saya sering menangani kasus perundungan yang penyebabnya adalah pelaku dipaksa untuk melakukan perundungan oleh temannya. Begitu ditelusuri, ternyata pelaku takut jika tidak membuli, dia akan dikucilkan.

Adapun hal yang membuat anak-anak lebih mudah menyakiti orang lain tanpa rasa bersalah adalah mereka belum memiliki kemampuan berempati dengan baik, oleh sebab itu pelaku perundungan sulit merasakan apa yang dirasakan oleh korban.

Baca juga:

Selain pengaruh lingkungan, media sosial juga menjadi penyebab derasnya arus kenakalan remaja, salah satunya perundungan. Lantas apa yang bisa dilakukan oleh orang tua?

Mencegah Perundungan

Orang tua perlu melakukan beberapa hal. Mereka harus menjadi role model dengan mengajarkan empati, kasih sayang, dan toleransi kepada anak. Caranya adalah dengan membantu mereka belajar mengelola emosi. Di sekolah, orang tua perlu menjalin komunikasi dengan pihak sekolah untuk menciptakan lingkungan yang aman, sekolah religius atau sekolah mahal tidak menjamin seluruhnya pasti baik.

Orang tua tidak boleh kalah dekat dengan teman-teman dan media sosial. Mereka perlu lebih banyak berbincang dan melibatkan anak dalam beragam hal untuk membangun komunikasi. Membangun kebiasaan mendengar cerita anak dari hal kecil hingga besar juga diperlukan.

Selain menjadi teman, orang tua perlu membangun karakter yang dihormati oleh anak sehingga ia mau mendengar dan percaya kepada orang tuanya. Kalau anak mulai bertentangan dengan prinsip keluarga, segera koreksi dan jangan menuggu nanti, sebab perkembangan anak dan masalah anak sangat kompleks.

Orang tua harus mengikuti perkembangan ilmu supaya obrolan dengan anak tetap nyambung. Jika memang kurang mumpuni, mereka bisa mencari alternatif lain dengan cara bertanya kepada yang lebih ahli. Di samping itu, mereka juga perlu untuk senantiasa berpasrah dan meminta kebaikan Tuhan agar selalu melingkupi setiap langkah anak-anak mereka.

Mengutip unggahan Iim Fahima di Instagram:

Di tengah dunia yang keras, tetaplah lembut. Karena anak-anak butuh rumah untuk mereka pulang, merasa aman, dan tenang. Rumah itu adalah orang tuanya sendiri.

 

Editor: Prihandini N

Fatwa Amalia
Fatwa Amalia Melihat kejujuran dari mata anak-anak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email