Menulis musik dan beberapa pernik-pernik budaya populer lainnya

Antiklimaks Bencana Taman Dinosaurus

Kukuh Basuki

4 min read

Bagaimana nasib manusia ketika pada suatu hari karnivora-karnivora raksasa di era dinosaurus yang terlanjur ‘dibangkitkan’ berkembang biak dan menyebar ke seluruh dunia? Tidak mudah menjawab pertanyaan ini. Ada berbagai macam kemungkinan yang serba tidak pasti, namun selalu saja menarik untuk ditafsirkan. Kemungkinan-kemungkinan itulah yang digambarkan dalam film Jurassic World Dominion yang tayang perdana di Indonesia tanggal 7 Juni 2022.

Film Jurassic World Dominion merupakan seri ketujuh yang menutup seri film Jurassic Park. Enam film sebelumnya adalah Jurrasic Park (1993) lalu dilanjutkan enam sekuelnya yaitu The Lost World (1997), Jurassic Park III (2001), Jurassic World (2015), Jurassic World: Fallen Kingdom (2018), dan satu film pendek Battle at Big Rock (2019). Kesuksesan dua film perdana yang digarap oleh Sutradara Steven Speilberg tampaknya masih membayangi sutradara-sutradara pada sekuel lanjutannya, termasuk Collin Trevorow yang menyutradarai Jurassic World Dominion ini.

Dalam seri terakhir ini Collin Trevorow seolah ingin menyambungkan kronik dari tiap-tiap episode film seri Jurassic Park. Hal itu bisa dilihat dari prolog singkat di awal film yang seperti rangkuman dari awal keberhasilan rekayasa genetika dinosaurus hingga menyebarnya beberapa spesies dinosaurus ke seluruh penjuru dunia. Selanjutnya didatangkannya tokoh-tokoh lama yang muncul di tiga film pertama yaitu paleoantropolog Alan Grant (Sam Neill), pakar paleobotani Ellie Sattler (Laura Dern), dan filsuf sains Ian Malcolm (Jeff Goldblum).

Misi menguak penyebab wabah hama yang mengancam ketersediaan pangan global dan keseimbangan rantai makanan mempertemukan mereka dengan beberapa tokoh generasi baru Jurassic Park yaitu mantan marinir Owen Grady (Chris Pratt) yang menjadi ahli perilaku binatang purba khususnya melatih Velociraptor, bersama istrinya Claire (Bryce Dallas Howard), pilot perempuan Kayla Watts (DeWanda Wise), dan pelatih Velociraptor lainnya Barry Sembene (Omar Sy) yang mempunyai misi berbeda yaitu menyelamatkan Maisie Lockwood (Isabella Sermon) dan seekor Velociraptor dari penculikan. Komplotan penjahat bayaran yang menculik mereka dibiayai oleh Biosyn, organisasi pemegang hak tunggal penangkaran dinosaurus pimpinan Lewis Dodgson (Campbell Scott) yang tak lain adalah organisasi pengembang riset genetika yang harus bertanggung jawab di balik rusaknya ekosistem global karena spesies belalang raksasa yang dikembangkan organisasi tersebut.

Biosyn mengincar Maisie untuk mendapatkan sampel gen yang ada padanya. Maisie yang menjadi anak angkat Owen dan Claire sebenarnya adalah manusia hasil dari riset ilmuwan biologi terkemuka Charlotte Lockwood (Elva Trill), yang mengkloning dirinya sendiri untuk mendapatkan versi dirinya yang terbebas dari penyakit yang dideritanya.

Sisi Gelap Sains

Satu isu penting yang diangkat dalam film Jurassic World Dominion adalah dilema tentang ilmu genetika dan sains secara umum. Sains sebagai pencapaian pola pikir manusia menjadi tulang punggung meningkatnya kesejahteraan dan harapan hidup manusia. Sains bisa memprediksikan apa yang akan terjadi di esok hari sehingga manusia bisa membuat antisipasi-antisipasi untuk meminimalkan bahkan menghilangkan hal buruk yang mungkin terjadi. Sains memberikan kesenangan dan kemudahan manusia dalam menjalankan kehidupan sehari-hari dengan memunculkan alat atau wahana baru.

Pada sisi yang lain sains juga sering dipersalahkan ketika produk perkembangannya menghasilkan bencana kemanusiaan. Dalam perkembangan ilmu genetika kita akan selalu mengingat pakar statistika Francis Galton yang menjerumuskan imu genetika pada lubang hitam yang paling dalam. Konsepnya tentang eugenika, yaitu ide tentang peningkatan mutu spesies melalui seleksi perkawinan, menjelma menjadi sumber rasisme, terbentuknya undang-undang vertilisasi (pemandulan) paksa bagi penyandang disabilitas mental dan intelektual di Amerika dan beberapa negara di Eropa, dan pada puncaknya adalah tragedi Holocaust, pemusnahan penduduk Yahudi oleh rezim fasis Nazi Jerman.

Kita juga masih mengingat bagaimana teori relativitas Einstein membuka jalan bagi Julius Robert Oppenheimer dan timnya The Manhattan Project untuk mengembangkan nuklir. Bom kekuatan tinggi yang pernah meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki itu sampai hari ini masih menjadi ancaman pemusnahan manusia dalam skala besar.

Lalu bagaimana dengan pembangkitan dinosaurus? Apakah itu akan menghadirkan kebermanfaatan bagi manusia atau sebaliknya akan menjadi bencana kemanusiaan? Melalui beragam konflik di dalamnya, film Jurassic World Dominion memberikan jawaban yang cenderung suram dari pertanyaan tersebut.

Manusia dengan kecerdasan intelektualnya dan didukung dengan teknologi yang ditemukannya akan terus berupaya mengembangkan sains untuk kemajuan peradaban dan menjawab ketidaktahuannya terhadap semesta. Perkembangan ilmu genetika yang begitu masif pada beberapa dekade terakhir ini semakin memungkinkan manusia mengembangkan sel dan jaringan melalui teknologi rekayasa genetika dan pengkloningan. Pembangunan taman Jurassic adalah salah satu imaji manusia yang bukan tidak mungkin suatu saat kita akan sampai ke sana.

Namun, di sisi lain dunia sains juga memiliki elemen vital yaitu etika penelitian. Etika penelitian selalu hadir untuk memberikan kepastian bahwa penelitian yang dikembangkan peneliti benar-benar aman, mengedepankan aspek kemanusiaan, dan berorientasi pada kebermanfaatan umat manusia, kelestarian bumi dan semua makhluk di dalamnya. Jika tidak lolos dalam proses etik penelitian, maka riset tidak boleh dilanjutkan.

Etika penelitian inilah yang diterabas oleh Biosyn yang mempunyai hak monopoli untuk mengembangkan dan menangkarkan dinosaurus. Biosyn juga melakukan riset mengembangkan spesies baru berupa belalang raksasa yang bisa merusak tanaman-tanaman penghasil pasokan pangan dunia. Sebagai gantinya Biosyn juga mengembangkan tanaman pangan sendiri yang anti serangan hama. Hal ini merupakan siasat licik Biosyn untuk memonopoli tanaman hasil pangan dunia.

Film Jurassic World Dominion seperti ingin memberikan pesan bahwa sains pada dasarnya baik. Namun sains akan menjadi sangat berbahaya jika sudah bercampur dengan kepentingan politik, komersialisasi, dan popularitas. Pembangunan taman Jurassic merupakan gambaran bagaimana manusia mengembangkan keilmuan tanpa menggunakan etika penelitian yang baik dan akhirnya berubah menjadi bencana kemanusiaan. Jika hal itu terjadi maka akan menjadi lembar hitam sejarah sains menyusul konsep eugenika dan nuklir yang sudah memberikan dampak nyata yang mengerikan.

Tertolong Sinematik Megah

Sebagai film pamungkas penutup dari seri Jurassic Park maka sangat wajar penonton mempunyai harapan tertinggi. Namun sayang sekali harapan itu tidak terlalu didapatkan dalam film ini. Sensasi ketegangan yang dibangun masih belum bisa menandingi film Jurassic Park episode pertama. Mungkin juga ini disebabkan karena manusia dalam film ini sudah terbiasa hidup dengan dinosaurus sehingga perjumpaan-perjumpaan di antara keduanya sudah tidak menjadi hal yang penuh kejutan seperti di film pertama. Namun di sisi lain bangunan ceritanya memang terlalu simpel dan cenderung mudah ditebak akhirnya.

Satu hal lagi yang menjadi ganjalan lagi dalam film ini adalah aksi dari beberapa spesies dinosaurus yang terlalu didramatisir. Salah satunya adalah adegan Atrociraptor mengejar motor yang ditunggangi Alan Grady di tengah kota. Proses lari yang tiada henti tanpa rasa lelah, menabrak segala sesuatu tanpa rasa sakit, dan lompatan-lompatan tinggi melawan gaya gravitasi malah mencitrakan Atrociraptor seperti mutan atau makhluk super daripada binatang purba yang membutuhkan banyak asupan oksigen untuk kerja fisik ekstra.

Kehadiran makhluk baru berupa kawanan belalang raksasa juga membuat cerita sedikit melebar dari dunia dinosaurus yang menjadi benang merah di setiap film seri Jurassic Park. Suatu usaha pengayaan cerita tapi sayangnya mengambil porsinya terlalu besar dalam film ini.

Namun di luar itu semua penonton akan dimanjakan oleh visualisasi dan variasi audio perkiraan suara dari berbagai macam spesies dinosaurus yang tampak semakin hidup dan gerakannya semakin halus. Dalam film ini penonton akan menemui beberapa spesies dinosaurus seperti Tyranosaurus Rex, Velociraptor, Nasutoceratops, Pteranodon, Dilophosaurus, Therizinosaurus, Apatosaurus, Dreadnoughtus, Quetzalcoatlus, Mosasaurus, Parasaurolophus, Oviraptor, Moros Interpidus, Iguanodon, Indominus Rex dan karnivora raksasa yang belum pernah muncul di film-film sebelumnya, Gigantosaurus. Semuanya membentuk rangkaian sinematik yang megah dan spektakuler yang akan memberi kebahagiaan tersendiri bagi pecinta dinosaurus di seluruh dunia.

***

 

Editor: Ghufroni An’ars

Kukuh Basuki
Kukuh Basuki Menulis musik dan beberapa pernik-pernik budaya populer lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email