Mama paus

Anak-Anak Mengajarkan Empati di Ruang Publik

Yuviniar Ekawati

2 min read

..Normalize orang yang tidak suka anak kecil. Tidak semua orang sanggup untuk sabar menghadapi anak kecil dan mendengar jeritan-jeritan mereka yang menganggu. Sorry to say…

Begitu kira-kira isi cuitan seseorang melalui akun media sosialnya yang disambut berbagai tanggapan dengan spektrum yang luas. Dipantik cuitan tersebut, banyak orang yang mengungkapkan kebencian kepada anak-anak hingga mengatakan ingin menyakiti anak-anak yang dianggap berisik.

Persoalan utama yang bisa ditarik dari cuitan dan tanggapan-tanggapan tersebut adalah bagaimana posisi seorang anak kecil ketika berada di ruang publik. Apakah dengan risiko berisik, anak kecil tidak bisa eksis di ruang publik karena dapat mengganggu orang lain?

Ruang publik merupakan sebuah tempat di mana orang-orang bisa berkumpul dan melakukan beragam kegiatan termasuk mengungkapkan pendapatnya. Semua orang punya hak yang sama untuk dapat eksis di ruang publik. Entah saya seorang perempuan; entah dia seorang laki-laki; seorang disabilitas; seorang janda; seorang lansia; seorang imigran; seseorang dengan ras tertentu. Begitupun anak kecil, ia memiliki hak untuk dapat eksis di ruang publik.

Baca juga Ketika Media Milik Kita

Sama seperti media sosial yang memberikan kesempatan setiap orang untuk bicara dan berteriak, termasuk cuitan yang menyatakan ketidaksukaan pada anak-anak tersebut. Meski begitu, cuitan semacam itu justru mengancam ruang publik itu sendiri karena ada upaya pembungkaman identitas tertentu untuk berada di ruang publik.

 

Empati

Sebagai seorang ibu dengan anak yang sering rewel saya jadi bertanya-tanya, apakah saya jadi tidak dapat diterima di masyarakat ketika anak saya rewel?

Sebagai seorang ibu, saya mengakui bahwa ada kalanya saya tidak bisa mengontrol anak saya yang menangis sejadi-jadinya ketika kami sedang pergi keluar rumah. Ketika anak saya menangis hingga berteriak yang terjadi selanjutnya adalah semua orang akan memelototi saya. Tatapan itu jelas membuat saya tidak nyaman. Saya jadi tenggelam dengan rasa bersalah dan malu. Tubuh saya dan pikiran saya semakin lelah untuk dapat berusaha menenangkan anak saya.

Baca juga Menjaga Ibu Tetap Waras

Terlebih ruang publik di Indonesia masih tidak bisa menjembatani kebutuhan banyak pihak. Bagi saya yang memiliki anak kecil, ruang publik kita merupakan tempat yang tidak berpihak kepada saya dan anak saya. Sangat jarang kita temui fasilitas ruang menyusui atau ruang laktasi di ruang publik yang kita miliki. Bahkan, toilet umum di Indonesia juga tidak memiliki fasilitas untuk ruang ganti popok anak.

Ruang terbuka kita untuk anak berlarian digusur menjadi bangunan-bangunan tinggi. Jadi, di mana anak saya bisa berlarian sekarang? Apakah di trotoar jalan yang berlubang-lubang? Ataukah di tengah jalan bersamaan dengan lalu-lalang kendaraan?

Saya baru menyebutkan beberapa fasilitas yang tidak dimiliki oleh ruang publik kita untuk anak-anak, belum lagi menyorot hal lainnya seperti bagaimana ruang publik kita yang memang tidak berpihak kepada kelas marjinal.

Sebagai manusia yang lebih berumur dari anak saya, saya pun sering merasa muak berada di transportasi publik kita yang panas dan sesak. Kepala saya seakan terasa mau pecah. Coba bayangkan menjadi seorang anak yang kemampuan komunikasinya baru berkembang? Jika saya saja ingin berteriak, apa kabar dengan anak-anak?

Di sini, saya jadi menyadari bahwa anak saya mungkin saja lebih tegas dari pada manusia-manusia lainnya termasuk kita yang sudah dewasa. Dia vokal akan ketidaknyamanan yang dia rasakan.

Baca juga Buku Anak tentang Problematika Kehidupan? Mengapa Tidak?

Anak-anak menyadari bahwa semuanya tidak berpihak kepada kelompok mereka, yang memiliki kebutuhan berbeda. Kita, yang sudah dewasa ini dibutakan pada kenyamanan dan justru seakan tidak empati kepada kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan oleh kelompok-kelompok lain.

Meskipun kita memang tidak membutuhkan fasilitas-fasilitas tertentu, kita tidak tahu apakah orang lain membutuhkan fasilitas-fasilitas tersebut.

Dari anak saya, saya belajar untuk berempati ketika saya berada di ruang publik. Saya belajar untuk melihat semuanya lebih jernih, bahwa siapa pun memiliki hak untuk hadir di ruang publik dengan setara dan mendapatkan fasilitas yang selayaknya.

 

Hasrat Mengontrol

Sebagai mantan anak kecil yang sering sekali rewel, saya selalu melihat orang dewasa sebagai seseorang yang sering sekali mendikte untuk anak-anak bersikap baik. Saya selalu merasa tidak pernah dipahami oleh orang-orang dewasa di sekitar saya.

Orang-orang dewasa di sekitar saya juga mudah sekali untuk melabeli saya sebagai anak nakal atau anak menyusahkan ketika saya menangis atau dianggap berisik. Orang-orang dewasa di sekitar saya juga sering cerita kalau saya menyusahkan ketika bayi.

Internalisasi dikte-dikte tersebut bertahan di kepala saya. Ketika saya dewasa, saya cenderung kesal ketika melihat anak-anak yang senang menangis dengan kencang. Syukurnya, pemikiran di kepala saya itu luntur ketika anak saya lahir. Saya belajar bahwa tantrum sendiri adalah fase perkembangan emosional anak. Semua anak akan mengalami fase tersebut. Itu adalah bagian dari proses belajar.

Ketika mencari buku-buku parenting, kita juga akan mudah menemukan jajaran buku dengan judul-judul yang bersifat untuk mengondisikan anak menjadi yang kita inginkan seperti ‘raising cooperative..’; ‘no bad kids…’; ‘mendisiplinkan anak…’

Baca juga Karena Kita Bukan Cinderella

Kita dibuat terbiasa untuk menciptakan kondisi seperti yang kita inginkan, sesuai dengan standar-standar kita tanpa melihat dengan jernih kondisi yang ada.

Sama dengan tren penggunaan kalimat ‘normalize….’  yang berisiko mengontrol masyarakat sesuai dengan kehendak beberapa kelompok dengan menyampingkan kebutuhan kelompok lainnya.

Yuviniar Ekawati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email