Yuviniar Ekawati Seorang ibu tunggal, penyintas, dan pelajar.

Aku Masuk Berita

6 min read

Aku Masuk Berita

Aku anak Program Studi Jurnalistik yang masuk berita saat baru satu tahun berkuliah. Bukan karena menulis berita seperti teman-temanku yang lain. Orang lain lah yang menulis sepenggal kisah hidupku. Harusnya sekarang aku diam saja, apalagi medianya oke banget. Ngapain aku gusar? Adik tingkatku saja bilang, “Wah, Kakak keren banget masuk berita!”

Tapi tidak semua orang di dunia ini gila ternyata, ada juga yang waras. Bukannya menyelamati aku masuk berita, mereka malah menanyakan serentetan pertanyaan seperti ini:

“Kamu kok bisa hampir ditiduri emangnya kamu keluar jam berapa?”

Pake baju apa pas malam itu?”

“Bapak itu suka sama kamu?”

Tidak seperti orang lain, orang waras ini membaca berita dengan seksama dan menyadari; Aku perempuan bermasalah.

Sebenarnya, isi berita ini tentang warna-warni kehidupan di Jatinangor yang melibatkan banyak tokoh. Tetapi, peranku di sini adalah seorang pecundang yang malang nasibnya.

Hidupku malang, hidupku sayang. Aku dihubungi karena tidur di apartemen lantai 20. Si Penulis mengatakan bahwa aku adalah anak orang kaya, yang beruntung serta suka hura-hura. Namun, di akhir ceritaku ini, aku tetaplah orang malang. Semalang itu nasibku sampai tidak ada yang ngeh bahwa aku malang selain diriku sendiri.

Tokoh lain di berita ini, hidupnya sangat inspiring. Dia berprestasi, seorang aktivis, dan dekat dengan Tuhan. Sebuah potret yang kontras antara aku dan dia; aku si pecundang dan dia yang disayang Tuhan.

Seperti potret orang pecundang yang jauh dari Tuhan, nasibku baik. Aku dilimpahi kekayaan dan dijauhkan dari rasa susah. Hidupku tidak penuh perjuangan. 

Si Penulis butuh orang sepertiku untuk melengkapi ceritanya. Kulihat tatapan matanya, dia kenikmatan seperti sedang onani, “Terus, iya, terus, iya begitu!” 

Dia menuju klimaks tapi aku membuatnya turun saat kukatakan, “Aku pernah punya pengalaman gak enak sih di sini.”

Seperti potret seorang pecundang yang jauh dari Tuhan, nasibku baik. Tetapi, berbagai cobaan bikin aku malang kebangetan. Ini merupakan teguran dari Tuhan.

Kasihan, padahal tinggal sebentar lagi dia keluar. Kentang ini harus dia telan bulat-bulat karena harus mendengarkanku menceritakan kisah malam itu. Kisah ketika aku dikejar bapak-bapak yang memintaku tidur di tempatnya. Sial sekali tokoh aku ini yang baru lepas dari usia anak.

Tak kusangka sebetulnya, gagalnya dia onani hari itu tetap terbayar dengan naiknya berita ini. Berita tentang kehidupan di Jatinangor dengan berbagai dinamikanya. Sebenarnya Jatinangor sama seperti kota lainnya. Bedanya, di sini dipenuhi dengan remaja-remaja tanggung yang doyan masturbasi.

Di akhir hari, aku menyadari semua orang yang membaca berita ini gila, tidaklah waras. Baik yang menyelamatiku; yang mengutukku; yang mengenalku tetapi membaca namaku tanpa beban; yang tidak mengenalku dan menganggap kejadian itu angin lalu; yang mengedit tulisan dengan namaku di dalamnya; yang merupakan bagian dari media itu.

Paling gila memang si Penulis, yang menulis namaku dan ceritaku dengan brutal sama seperti saat dia memainkan penisnya.

 

Ada Kucing Mati di Punggungku

Malam itu aku ke sekre karena takut akan menyakiti diri sendiri jika terus diam di kamar. Aku tidak bisa tidur; tidak bisa tenang saat di kamar sendirian. Syukur, temanku di sekre menungguku untuk menemani nonton film.

Aku berjalan ke Sekretariat Unit Kegiatan Mahasiswa bagian barat karena tidak ada angkot dan ojek di sekitar sini. Zaman itu ojek online belum masuk, sial.

Kubuka HP-ku, satu-satunya yang menjadi penerang lingkungan ini meski hanya sesaat ketika kulihat waktu ternyata sudah tengah malam.

Di tengah perjalanan ada kucing mati. Aku masukkan kucing itu ke ransel sambil menangis dengan gila. Mau tahu bagaimana keadaannya? Tidak baik.

Bapak itu dengan motornya mendekatiku, mengajakku naik ke motornya. Dia terus memepetku dengan gaya bicaranya seperti aku ini anak kecil. “Ayo naik aja, nanti dianterin ke teman-temannya,” suara bapak memenuhiku.

Seperti bapak-bapak lainnya yang pernah membawakan coklat dan permen ke depanku tanpa tahu aku bisa mati batuk-batuk ketika memakannya. 

Ada satu bapak yang aku sambut kehadirannya yaitu saat dia membelikanku alat tulis dan menuliskan nama kecilku di kaca mobil bagian belakang yang berdebu. Kuingat, sepanjang jalan aku menatap namaku. Kueja nama kecilku yang terdiri dari empat huruf, * * * *.

Bapak-bapak ini mengandung rasa yang sama. Aku tahu dari suara dan tatapannya.

Aku lari tetapi dia terus mengejar hingga motornya naik ke trotoar jalan. Akhirnya, kuputuskan untuk ikut lalu berhenti di depan kampus. Tapi dasar sial, motor terus melaju melewati kampus.

Motor itu tidak berhenti, terus lurus ke Hegarmanah. Bapak itu terus membawa motornya menjauh dari kampus. Aku menangis dan mengancam akan melompat. Saat memasuki lingkungan yang masih ramai, aku mulai berteriak. Namun, dasar pintar, si bapak balik arah dan melawan arus meskipun banyak truk besar lalu lalang. Kalau saat itu aku mati; aku mati.

Kami masuk ke daerah kampus. Aku minta diturunkan dekat sekre meski aku tahu dia mau membawaku ke taman dan danau di Arboretum yang gelap gulita. Aku tahu apa yang hendak dia lakukan padaku di sana. Jujur semuanya terasa jelas. Kemalangan ini harus kuhindari. Kutarik tangan bapak untuk membelokkan setir, motor sekarang berada di jalur yang seharusnya; menuju sekre.

Kami berhenti di parkiran dan Bapak itu terlihat gelisah. Bapak mengajakku menginap di tempatnya.

“Ibu saya dosen U*N, nanti kamu tidur sama dia,” kata Bapak.

Aku masih ingat mata si Bapak merah hendak menangis. 

Aku menolak ajakannya dengan nada anak kecil yang ketakutan. Kupikir, jawaban memelas seperti ini yang ingin didengarnya; aku tunduk padanya. Apa mungkin Bapak semakin bergairah melihatku? Anak perempuan dengan ransel merah muda berisi kucing mati di punggungnya.

Aku berjalan dengan cepat menjauhi motor yang lampunya dimatikan tapi masih terdengar suara mesin yang menyala.

Aku berlari secepat yang aku bisa untuk segera masuk ke sekre diikuti derap langkah kaki dan nafas yang hangat di belakangku.

Anak 19 tahun—tokoh aku ini—ketakutan dengan kucing mati di ranselnya. 

Aku masuk ke sekre berteriak sambil melempar ranselku. Entah mana yang lebih menakutkan, kucing mati di punggungku atau bayangan bapak menggerayangiku.

Aku mulai berteriak, “Ada kucing mati! Ada kucing mati!”

Tubuhku berubah menjadi bangkai yang menjijikan malam itu. 

Si Bapak berlari takut dipukuli Merpati Putih.

Kucing itu langsung dikubur tetapi baunya masih tercium di tubuhku.

Aku sering berpikir gini:

Apakah si Bapak sengaja membunuh kucing itu lalu dia simpan di situ untuk dijadikan umpan untuk orang sepertiku? Tapi rasanya tidak mungkin.

Lebih mungkin kalau aku sendiri adalah jelmaan kucing itu. Sudah mati, busuk, menyedihkan.

Aku menemukan diriku sendiri di jalan itu; terkapar tak bernyawa.

Setidaknya aku menggemaskan jika masih segar.

“Kamu lucu kayak kucing,” kata laki-laki yang pernah menyukaiku saat SMA. 

Ya, kucing mati.  

 

Air Danau yang Tenang Memanggilku

Aku mau mati dengan cantik dan tragis seperti Ophelia pada lukisan Sir John Everett Millais, karakter dari drama Hamlet karya William Shakespeare. Aku ingin bibir merah muda dan basah itu; aku ingin kulit pucat dan dingin itu; aku ingin rambutnya yang mengambang indah di air yang tenang itu; aku ingin tangan yang terkulai lemas naik ke atas air seperti sedang berdoa; aku ingin Ophelia.

Aku ingin kematian yang agung seperti sastra klasik.

Tapi yang aku miliki di sini hanya diriku sendiri, bukan Ophelia. Bukan di sungai, melainkan di danau kecil yang keruh dan penuh sampah bernama Check Dam di Arboretum. 

Teman-temanku menyadari aku hilang dari rapat di sekre. Ya, hilang lagi. Aku sering melarikan diri, sejujurnya, dari mana pun itu. Dari kegiatanku, keluargaku, teman-temanku, kekasihku, dan kamarku di lantai 20.

Aku merasa tidak bisa melarikan diri lagi malam itu. 

Malam itu aku melakukan prosesi pemakaman untuk ikan cupangku di danau. Biarlah yang hidup di air kembali lagi ke air. Aku harus akui, aku tidak terlalu sedih, ikatan emosional dengan cupangku sangat rendah.

Namun, gelombang air dari hasil melempar cupangku membuatku penasaran. Ada apa di dalam sana?

Saat berjongkok di pinggir danau yang keruh dan memerhatikan air yang tenang ini, aku tidak melihat Ophelia tapi diriku sendiri.

Aku tidak cantik, kehidupanku juga tidak tragis-tragis amat. Bukan tragis seperti pada sastra klasik. Tragis yang tidak akan membekas di hati banyak orang karena saat membaca kisahku, semua orang tahu ini tidak indah. Tapi bukan juga tragis-tragis dark comedy yang akan menjadi legenda nanti.

Hanya aku yang merasa seperti tai sejak bangun tidur, tidak ada keagungan di sana.

Tapi tetap, aku ingin mati seperti Ophelia.

Aku menceburkan diri ke air itu, sontak penghuni danau kabur. Kadal-kadal berlarian, mungkin juga ular. Kulitku terluka karena terkena ranting dan sampah. Oh, indahnya. Inilah kematian yang tidak aku dambakan.

Saat menatap ke atas aku bisa melihat cahaya dari bulan membasuhku. Aku bohong, tidak ada cerita seperti itu. Saat aku menatap ke atas yang kulihat adalah wajah temanku.

Temanku menatapku yang mengapung di air yang keruh. Aku yakin di matanya tidak ada kecantikan sama sekali di sana. Adakah sedikit saja bayangan Ophelia?

Sama seperti rasa sakit yang memanggilku pada kematian, air yang tenang di danau ini juga memanggilku. Saat melihat hamparan danau itu di malam hari. Semua alasan malang untukku mati sebelum usia 20 tahun muncul ke permukaan. 

Tetapi, seperti danau ini yang tidak bisa membunuhku. Rasa sakit juga gagal.

 

Lantai 20, Ulang Tahunku ke-20

Bagaimana cara membersihkan muntahan di lift? Aku muntah begitu saja tanpa bisa aku tahan. Sekarang aku harus membersihkan ini semua. Perjalanan ke lantai 20 masih panjang dan aku takut seseorang akan masuk.

Aku menyadari, muntah ini adalah respon tubuhku atas panik yang aku rasakan ketika aku memaksakan diri pulang ke kamarku di lantai 20. Aku tidak takut ketinggian. Aku hanya tidak nyaman untuk berada di kamarku sendirian.

Saat cemas seperti ini waktu berjalan lebih lambat bagiku. Perjalanan menuju kamarku di lantai 20 menjadi semakin terasa panjang dan melelahkan.

Aku mendatangi kamarku di lantai 20 sebagai perayaan ulang tahunku yang ke-20. Di kamar aku menyambut hadiahku yang berupa mimpi yang malang.

Mimpiku dimulai ketika aku terbangun di atas kasur yang lembek dan basah. Ketika kulihat tangan dan bajuku berwarna merah dengan aroma besi; aku tahu basah di tubuhku ini darah.

Badanku dipenuhi darah di atas kasur. Tak lama, aku melihat benjolan di atas kasur yang menyerupai tumor. Saat kuangkat, ternyata ini adalah janin. Janin di tanganku sangat kecil tapi sudah memiliki mata. Aku tidak mengerti anatomi tubuh janin, namun aku merasa aneh karena mata ini berada di dadanya.

Mata ini terus membesar hingga membuatku takut akan meletus. Ketakutanku terbukti benar, mata ini meletus. 

Dorr.

Darah mengalir di tanganku. Tembok di sekelilingku penuh cipratan darah. Juga di rambutku, di wajahku hingga menutupi mataku. 

Semakin lama kasur terasa semakin lembek hingga buyar ditekan berat badanku. Sekarang kasur ini memperlihatkan bentuk aslinya yaitu tumpukan janin.

Aku tidak bisa benar-benar ketakutan karena aku di dalam mimpi.

Itulah yang membuat mimpi menjadi lebih menakutkan daripada saat sadar. Aku tidak bisa merespon sebagaimana mestinya. Hanya mata dan mulutku yang terbuka tanpa bisa bergerak dan mengeluarkan kata. Aku baru bisa merespon setelah aku berhasil sadar. Saat aku tersadar, aku menggila di lantai 20 pada usia 20.

Kemalangan yang tak bisa dihindari. Aku hidup bersama kegilaan ini, kini dan seterusnya.

Yuviniar Ekawati
Yuviniar Ekawati Seorang ibu tunggal, penyintas, dan pelajar.

Selamat Malam

Nibrosi
1 min read

Batas Waras

Farah Ramadanti Farah Ramadanti
9 min read

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email.