Connection Information

To perform the requested action, WordPress needs to access your web server. Please enter your FTP credentials to proceed. If you do not remember your credentials, you should contact your web host.

Connection Type

Air Mata Itu dan Puisi Lainnya

Air Mata Itu dan Puisi Lainnya

ilal mamduh

1 min read

di sudut taman kota

tiada bunga & kupu. kalau kau
bertanya, hanya ada setangkai
bulan di taman langit &
lampu-lampu kota yang bisu.

malam yang likat & udara mengikat dingin
pada tubuhku—kesepian kian membeku!

mencium wangi luka-luka bermekaran;
seperti mendengar
burung camar menangis
di ranting cemara.

apakah itu kesedihan? duh, tetapi kesedihan
tidak mungkin tidak dikenal. & ya sesekali
aku ingin berjarak dengan kesedihan,
sungguh. walau hanya seperti kepada
bayanganku sendiri. meski

pada akhirnya kita pun pasrah
sebab tidak bisa mengusir bayang-bayang diri
segala yang diciptakan cahaya
adalah: ya! alangkah banyaknya nestapa
di sekitar kita.

ingatan tentang bintang-bintang

bintang-bintang kemudian jatuh di kota yang
bukan kotamu. bintang serupa lampu-lampu
kota, kataku itu air mata bulan. sementara
langit hanya kamar gelap, tempat bagi
seseorang duduk di sudut dan menangis.

& apakah kotaku jatuh di kotamu, apakah
kau memikirkannya? adakah yang mampu kau
tangisi melainkan diriku sendiri.

apakah bulan di kotamu mampu menatapku
tanpa menangis? adakah kau melakukannya;
menatapku

dengan tatapan iba penuh perasaan ibu
—mencintaiku, yang artinya mencintai
kecewa.

ritus perpisahan

yang belum terucap
dari mabuk semalam
adalah kita terlampau
banyak bicara
perihal perpisahan
& hal-hal yang lampau

sebab kita juga
telah dibatasi, oleh
roda besi yang diburu pagi
yang musti bergegas pergi

& aku lupa bilang—
selain karena menangis
& menenggak banyak
kecemasan. merah mata
adalah tanda
cinta kita
cinta
kita
(cheers!)

air mata itu

yang tenggelam dalam anggur adalah harapan & kekecewaan.
aku perlu memutar lagu untuk menangis: mendengarkan bulan
menyanyikan lagu kesedihan. aku memang pernah menangis
tetapi aku belum mungkin mengenali air mataku sendiri.

aku perlu seloki & dua botol untuk sepasang mata
yang sedih & aku akan memuntahkannya di muka langit,
agar langit mengerti derita & darah bukan hanya merah.
pada malam itu ketika puisi membaca aku & aku memukul
dada & kepala sesekali—o betapa hidup;

betapa hidup sempoyongan seperti daun kering pada ujung dahan
yang rapuh, ditiup angin siut serupa maut: kecemasan—apakah doa-doa
masih ada & apakah kau mendengar suara itu, nyanyian itu, tangis itu,
air mata itu—menenggelamkan aku, melupakan & meluapkan aku.

pagi berhujan menuju stasiun

pagi hari aku mencatat suara burung di kaca
jendela yang tak pernah bisa dibaca &
dimengerti, aku pun tak pernah bisa
menuliskannya. kaca jendela hanya ada—
seperti sisa hujan & udara. dingin & bisu.

yang dimengerti dari semuanya itu cuma
masa kanak-kanak; seorang bocah kecil
dalam jiwaku yang melintas seketika. &
di tangan seorang bocah, waktu adalah
ketidakberdayaan;

menjelma kembang gula yang apabila raib
atau ditarik paksa dari genggamannya
yang halus & lembut
—air mata dijadikan satu-satunya senjata.

(Malang-Bekasi, 2023)

*****

Editor: Moch Aldy MA

ilal mamduh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email