pengajar di salah satu sekolah swasta di lampung

Agama Tiktok dan Puisi Lainnya

Muhammad Syahroni

1 min read

AGAMA TIKTOK

agama gelisah di atas ranjang
tangan agama yang mahalapang
tak mampu memeluk tubuhnya
yang terbuat dari para pelayat
yang lupa sembahyang:

“maaf, aku sedang sibuk
merakit kerja menjadi saya,”
kata pelayat yang putus sebelah sendal jepitnya
“kamu dan agama adalah sepasang sendal
yang dikenakan di tubuhmu,” timpal agama

pada suatu malam bencana yang sepi,
agama mengadu kepada tuhan
agar tuhan mengirimkan nabi baru
yang menyeru kepada umat kerja
agar dasar-dasar agama diubah menjadi manusia

“telah kukirim kepadamu agama tiktok!”
seru tuhan kemudian melengos meninggalkan agama sendiri
di pojok kuburan nabinya.

celaka!
diam-diam iblis membuat tiktok sendiri
dan segala dosa dibuat lumrah dan biasa-biasa saja.

SENJA BERGANTI BAJU JADI SENJU

iseng-iseng kupungut saja senja
dan menggoreskannya di bibirku:
weleh-weleh aku jadi semakin kayak asu.

di tengah malam begini,
setelah senja dicobot dan diganti
dengan gelap yang lengkap
beserta seperangkat sepi,
bibirku melolong dan aku
meledak-ledakkan waktu menggonggong.

“kupikir senja bisa menahan amarah cinta
yang semakin galak minta kemerdekaan.
ihwal kemerdekaan, cinta yang tak dijaga
akan menjelma iblis yang manis rasanya.”

senja kucopot beserta dengan segumpal ciuman,
kulemparkan ke langit hatimu,
hatimu panas tak karuan tak tertahankan.

PULANG

nasibku uring-uringan
kepalaku mudik ke kampung tuhan

MANGGA

ia telah mendapatkan kepalanya kembali
setelah hilang tujuh malam lamanya.
kepala itu ia temukan tersangkut di pohon mangga
di ujung ranting paling kering dan rapuh
depan rumah tuhan tak jauh dari gang kebenaran,
cuma sedikit belok dan agak berkelok.

ia dapati kepalanya telah gundul mluntus,
matanya tetap cemerlang kecoklatan,
alisnya tetap lengkung dan lentik,
dan bibirnya sama saja: kering dan pecah-pecah.

ia buka isi kepalanya sendiri
untuk memastikan
apakah ada yang hilang di sana. oh.
rupanya masih sama saja: suwung dan berbahaya.

tuhan yang sedang ngopi
sambil baca koran edisi minggu
mencoret-coret kolom nasib dalam teka-teki silang
melihat gerak-gerik yang mencurigakan:
“hei! jangan kau curi manggaku yang ranum itu.”

ia bergegas pergi, kembali berkelok dan sedikit belok
menyusuri gang kebenaran. di dalam kepalanya yang suwung,
tuhan diam-diam masukkan mangganya yang ranum.

KIRI

mulutku telah diasah dan kini
terampil merapal mantra
yang sangat berbahaya.

ibuku seperti penyihir
yang mengasuhku
dengan ilmu-ilmu sakti mandraguna.
ibu mengajariku bahwa
kata kiri lebih berbahaya ketimbang anjing,
babi, atau serigala.

kata agama lebih rentan dan menderita
dalam kata negara. dan kata Tuhan
lebih ringan dari kata Hantu
yang kerap menampakkan wujudnya
sebagai genderuwo, wewegombel,
pocong, atau manusia.

ibuku pernah berkata kepadaku
bahwa aku harus hati-hati dengan kata-kata kiri;
baik dalam kata agama maupun kata negara. sebab,
kata ibu, Tuhan dan Hantu tidak bisa disatukan
dan kiri adalah ranjang yang ditumbuhi semak berduri:
belukar yang melilit kepala tidurmu
perlahan-lahan dan mematikan.

astaga!
diam-diam tangan kiriku menembak kepalaku.
darah berkucuran dan otakku berantakan. astaga!

KOPI RETORIKA

pesan kopi
atau mau
meminum saya?
tubuh saya
terbuat dari politik
yang digodok retorika.

*****

Editor: Moch Aldy MA

Muhammad Syahroni
Muhammad Syahroni pengajar di salah satu sekolah swasta di lampung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email