30 Tahun Dewa 19, Mengapa Masih Laku?

Djoko Santoso

2 min read

Baca juga: Terbaik-Terbaik dari 30 Tahun Dewa 19

Di usia 30 tahun, Dewa 19 masih produktif dan masih laku di pasar musik Indonesia. Band yang lahir di Surabaya ini sedang bersiap menggelar konser Anniversary ke-30 dengan mengusung tema 30 Kota 30 Lagu.

Pada 1992, band ini merilis album pertamanya dengan judul yang menginformasikan usia mereka. Di sinilah salah kaprah nama band dimulai. Judul album “19” yang menunjukkan usia mereka (yang pada tahun itu semua personel berusia 19 tahun), kemudian terbaca di logonya sebagai Dewa 19. Yang seharusnya dibaca nama band “Dewa” nama album “19”. Tapi toh pada akhirnya nama Dewa 19 diaminkan oleh semua, termasuk para personelnya.

Baca Editorial tentang Beatles: Yoko Effect

Debut pertama band ini dengan single Kangen yang menjadi cikal bakal lakunya musik pop rock ini. Lagu kangen yang bercerita tentang LDR-nya sepasang kekasih (pada waktu itu belum ada istilah LDR, misal sudah ada mungkin judulnya akan diganti). Sebuah lagu dengan lirik bertipe “ngobrol” dengan kekasih lewat surat. Kekasih yang sering dikira bahwa dia adalah ibundanya Al El Dul.

Berikut beberapa sebab Dewa 19 masih laku di telinga pendengar musik hingga saat ini. Beberapa hal ini bersifat subyektif, tentu dengan analisis ringan.

Pertama, tanpa vokalis tetap

Mungkin Dewa 19 satu-satunya grup band di Indonesia yang tak memiliki vokalis tetap. Agak aneh emang sebuah grup band tak memiliki vokalis, dan hanya mengandalkan featuring dengan vokalis “jebolannya” yaitu Ari Lasso dan Once, dan juga featuring dengan penyanyi jebolan pencarian bakat idolanya Ahmad Dhani yakni Virzha.

Nampaknya grup band tanpa vokalis tetap menjadi kekuatan karakter tersendiri. Para penikmat musik dapat mendengar 3 karakter vokal dalam tiga dasawarsa. Bahkan Ari Lasso pernah bilang bahwa ide grup band tanpa vokalis adalah ide jenius dari Ahmad Dhani. Para Baladewa bisa memilih ciri vokal dan aksi panggungnya. Varian karakter vokal juga mengajak pendengar untuk bernostalgia. Vokal Ari Lasso memberi mood 90-an, vokal Once memberi mood 2000-an, dan vokal Virzha bermood modern.

Selain masalah musik, grup band tanpa vokalis tetap tentu akan lebih elastis dalam budgetnya. Para penyelenggara konser bisa menyesuaikan kondisi dompet, dan juga sesuainya jadwal para vokalis. Selain itu bisa menyesuaikan jenis dan besarnya konser.

Akan tetapi konsep tanpa vokalis tetap akan punya kendala dalam penjudulan konser yang sering menyulitkan tim pemasarannya. Judulnya jadi mbulet “Dewa 19 x Ari Lasso”, “ Dewa 19 x Once”, “Dewa 19 x Virzha”. Bahkan dalam beberapa kesempatan bila featuring dengan penyanyi lain judulnya akan menjadi panjang “Dewa 19 x Virzha feat. Tiara Andini”. “Dewa 19 feat Virzha feat Once Mekel”.  Mumet nggak? Mumet dong.

Kedua, lirik yang kuat

Tak dipungkiri bahwa lirik karya Ahmad Dhani dan Andra Ramadhan merupakan lirik yang kuat. Banyak penulis lirik di Indonesia yang mengakuinya, sebut saja Ariel Noah, Iga Masardi Barasuara, Badai ex Kerispatih. Selain memakai diksi-diksi yang lawas dan jarang dipakai, lirik lagu Dewa 19 mengandung cerita yang dalam. Dari lirik yang bermuatan cinta asmara, sampai lirik bermuatan cinta keluarga dan juga cinta sesama manusia.

Kisah cinta asmara tentu sangat dominan dalam banyak liriknya. Dari patah hati yang ditulis dalam lagu Pupus, hingga perjuangan dan gugatan cinta dalam lagu Cukup Siti Nurbaya. Ada juga lagu yang memaksa untuk jatuh cinta, yaitu Risalah Hati. Perasan cinta kok dipaksa, padahal tidak cinta. Sebuah paradoks, bukan?

Ketiga, branding baru

Faktor penting lainnya yang menjadikan Dewa 19 masih didengar yaitu branding baru. Setelah sempat agak terpuruk di dekade 2010-an, Dewa 19 tampil dengan wajah “agak” baru. Keluarnya Once sebagai vokalis mengharuskan Ahmad Dhani mencari penggantinya. Tidak mudah untuk mencari pengganti Once dengan karakter lengkingnya yang kuat melekat di Dewa 19. Kemudian digandenglah Virzha, si vokalis ragil di band ini.

Dengan karakter vokalnya, Virzha tampaknya bisa masuk di banyak musik Dewa 19. Memang, masih ada satu dua lagu yang sepertinya kurang cocok. Tapi masuknya Virzha menduduki lead vokal tampaknya menjadi salah satu sebab masih lakunya musik ini. Di beberapa lagu sepertinya lebih cocok dengan karakter vokalnya, sebut saja lagu Mahameru sepertinya lebih bernyawa ketika lead vokal diisi oleh Virzha.

Selain vokal baru musik Dewa 19 juga diremajakan, atau kalo pakai istilah asingnya direjuvenate. Lagu-lagu lawas banyak yang direkam ulang, tentu dengan menampilkan sound-sound baru. Selain itu juga beberapa lagu dengan sentuhan orkestra. Bahkan kabarnya semua lagu akan direkam ulang dengan vokalis Virzha. Tentu ini adalah strategi manis dari seorang musisi. Selain untuk mendapatkan peremajaan musik, nampaknya agar pihak Dewa 19 memiliki master rekamannya yang sebelumnya dipegang oleh label yang menaunginya.

Tak kalah menariknya, band ini lagi gencar-gencarnya menggarap proyek featuring dengan musisi, band, atau penyanyi lainnya. Dari musisi pop, penyayi lawas, rock, bahkan punk. Dan yang terakhir juga dengan penyanyi generasi Z.

Keempat, inspirasi musisi muda

Bagi para pemusik lokal yang baru belajar musik, personel band ini memang sering dijadikan idola. Yang paling kentara yaitu Andra Ramadhan. Gitaris kalem satu ini emang banyak dijadikan inspirasi pemusik generasi setelahnya. Lead-lead gitar dari Andra Ramadhan selalu punya ruh tersendiri. Dari yang cukup mudah di intro lagu Separuh Nafas maupun sampai sayatan terumit di interludenya lagu Bukan Cinta Manusia Biasa. Andra Ramadhan selalu memukau saat menyajikan tone gitarnya. Dia selalu berhasil menyanyikan melodinya di tengah-tengah lagunya.

 

Djoko Santoso

One Reply to “30 Tahun Dewa 19, Mengapa Masih Laku?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email.